Bisnis Fried Chicken Gerobak Dalam Sebulan Untung Bersih Rp 6,5 Juta

Pedagang kecilpun ikut ambil bagian dalam bisnis fried chicken. Resep dan proses pembuatannya diadaptasi. Meski lebih sederhana, namun usaha ini lumayan menjanjikan. Untuk 1 gerobak saja, keuntungan bersihnya mencapai Rp. 6,5 juta per bulan!

Penikmat fried chicken yang tak pernah surut mendatangkan rezeki tersendiri bagi para pedagang ayam goreng tepung. Masyarakat ekonomi bawahpun bisa mencicipi menu ini dengan harga lebih ekonomis. Meski tak mengusung nama franchise dan mengelola sendiri, usaha bisa laris dan bertahan lama.

Salah satu contoh sukses adalah pedagang fried chicken bernama Rahman. Pria ini sudah 6 tahun menggeluti usaha fried chicken. Sebelumnya, pria ini bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan retail di Jakarta. Namun perusahaannya bangkrut dan ia kehilangan pekerjaan. Rahmanpun mencoba membuka usaha ayam goreng tepung.

“Awalnya 6 tahun lalu hanya coba-coba. Bumbu raciknya juga beli yang siap olah, waktu itu sekitar Rp. 15.000 untuk satu hari, cukup untuk 10 ekor. Tapi lama-lama mencoba sendiri. Sempat gagal, tapi terus saya coba hingga akhirnya ketemu komposisi yang pas. Sekarang bumbunya buat sendiri, jauh lebih hemat,” ungkap Rahman.

Tiap harinya, Rahman menghabiskan 10 ekor ayam, masing-masing berukuran 1,2 kg. Tiap ekornya dibagi menjadi 16 bagian. Karena ukurannya kecil, ia menjual ayamnya dengan harga satuan Rp. 3.500. “Lebih baik harganya murah tapi ukuran kecil, jadi pas untuk pembeli ekonomi bawah yang kita sasar,” tutur pria yang sehari-harinya berjualan di kawasan Bekasi Utara ini.

Soal penggunaan minyak, Rahman mengaku hanya menggunakan minyak goreng kemasan, bukan curah. Diakuinya, minyak goreng kemasan lebih awet dan bersih. Tiap harinya, ia menggoreng dengan 5 liter minyak dengan perbandingan 2 liter minyak kemasan baru dan ditambah 3 liter minyak sisa hari sebelumnya.

Agar tetap segar, ayam goreng buatan Rahman tak digoreng sekaligus, melainkan dibagi dalam 3 tahap. Ketika ayam hampir habis terjual, baru Rahman menggoreng lagi stok ayam yang ia simpan di dalam cool box. Jejeran ayam gorengnya tampak disinari oleh lampu yang disebut Rahman ‘lampu oven’. Tak cuma membuat ayam tampak menggiurkan, lampu tersebut juga bisa membantu ayamnya tetap hangat.

Rahman juga merinci biaya yang ia keluarkan setiap hari. 10 ekor ayam per ekornya ukuran 1,2 kg dibeli dengan harga Rp 24.000 hingga Rp 26.000. Perharinya, ia juga membeli minyak goreng kemasan ukuran 2 liter dengan harga sekitar Rp 20.000. Biaya lain yang dikeluarkan adalah saus cabai curah, juga bumbu dan tepung.

Ayah 2 anak ini tak segan-segan membeberkan keuntungan yang didapat perharinya. “Tiap hari omzetnya bisa lebih dari Rp 500.000, dan untungnya sekitar setengahnya. Sekitar Rp 200.000-an per hari pendapatan bersihnya,” tutur Rahman. Rahman juga rutin menerima pesanan ayam goreng dalam jumlah besar di lingkungan tempatnya berjualan.

Ada beberapa tips usaha yang dijalankan pria asal Tasikmalaya ini. Ia mendirikan usaha di tempat strategis, yaitu di sebuah jalan yang menjadi jalur masuk beberapa komplek perumahan. Ia juga tak segan-segan memberi potongan harga. “Langganan saya biasanya bukan beli satu atau dua potong, tapi langsung sebut, Rp 10.000, Rp 20.000, itu langsung saya beri 3 potong dan 6 potong. Para pembeli sudah pada tahu.”

Menurut Rahman, usaha fried chicken ini tergolong usaha yang tak sulit dijalankan. “Dibanding kuliner lain, ayam ini lebih praktis dan untungnya lumayan. Asal konsisten dan menguasai ilmu mengelolanya. Sebagai gambaran, menjual 5 ekor ayam sehari saja sudah cukup untuk menghidupi 2 orang. Modal cukup Rp. 3 juta. Terlihat sepele tapi sebenarnya menjanjikan,” tutupnya.

Dengan Modal Rp. 8 Juta Bisa Punya Usaha Fried Chicken

Bila ingin mempunyai gerai fried cicken yang bisa langsung bergulir, bisa bermitra dengan beberapa warlaba ini:

1. Rocket Fried Chicken (RFC)
Franchise fried chicken yang dikelola aktor Indra Brugman ini sudah memiliki puluhan cabang, dari Jakarta, Bogor, Semarang, Batam, Kendari, dan kota besar lain. Selain fried chicken, menu lainnya adalah burger, french fries, hot dog, juga spaghetti. Berbasis di Bandung, investasi RFC berkisar antara Rp 65 juta hingga 225 juta dengan konsep kios, ruko, mini cafe, juga resto.

2. Orchi Fried Chicken
Kemitraan fried chicken Orchi menjanjikan keuntungan sekitar 5 juta rupiah perbulannya. Ada 2 paket yang tersedia, yaitu paket Lux dengan biaya 8 juta rupiah dan juga paket Eksklusif Rp 9 juta. Sudah termasuk pelatihan menggoreng ayam dan peralatan outlet. Berkantor pusat di kawasan Pulogebang Jakarta Timur, kini Orchi sudah memiliki ratusan cabang.

3. Jupe Fried Chicken (JFC)
Seperti Indra Brugman, artis Julia Perez juga menggeluti usaha kemitraan fried chicken. Menu-menu Jupe Fried Chicken juga dibuat unik, dari menu paha Jupe, dada Jupe, juga Jupeto wedges. Untuk bermitra, Anda bisa mengajukan lokasi, memberikan commitment fee sebesar 5 juta rupiah, dan mengikuti beberapa persyaratan lainnya. Gerainya yang didominasi warna pink dan ungu ini tersedia di kawasan Bandung, Sumedang, Karawang, juga Pekanbaru.

4. Java Fried Chicken
Kemitraan Java Fried Chicken mengunggulkan kelebihan jika tak ada royalty fee, waralaba fee, juga support fee. Dengan investasi awal Rp 7,5 juta hingga 8 juta, Anda sudah bisa menggunakan nama Java Fried Chicken, lengkap dengan pelatihan masak, bantuan pemasaran juga peralatan memasak dari bisnis franchise asal Garut, Jawa Barat ini.

5. Crispyku Fried Chicken
Dengan biaya investasi Rp. 10.000.000, Anda bisa memiliki usaha ayam goreng renyah khas Crispyku. Biaya tersebut sudah termasuk etalase, berbagai perlengkapan memasak, juga 10 kantong bumbu untuk 200 ekor ayam. Seperti tertulis dalam situs Waralaba Crispy Fried Chicken, kini Crispyku sudah memiliki lebih dari 50 outlet, dan berkantor pusat di kawasan Jakarta Utara.

Resep dan Cara Membuat Ayam Fried Chicken

Meskipun tak asli Amerika, fried chicken sudah jadi makanan nasional Amerika. Banyak resto dan rumahtangga punya andalan resep fried chicken. Selain bumbu juga racikan tepungnya punya banyak varian. Yuk, bikin fried chicken sendiri!

Resep ini merupakan resep fried chicken bergaya tradisional Amerika. Sebelum digoreng ayam dibumbui dan dicelupkan dalam susu dan telur. Dibalut tepung lalu digoreng. Rasanya lebih gurih dan enak. Ini dia langkah membuatnya.

1.Ayam Negeri
Ayam negeri menjadi bahan utama. Pilih yang beratnya di bawah 1 kg dan gemuk. Buang lapisan lemak berlebihan di bagian pantat dan pahanya. Cuci bersih lalu potong menjadi 8-12 bagian.

2.Bumbu
Sebagai bumbunya, siapkan 2 sdt merica bubuk, 2 sdt cabai merah bubuk dan 2 sdt garam serta 4 siung bawang putih yang diparut halus. Jumlah bumbu ini bisa disesuaikan dengan selera.

3. Membumbui
Taburi ayam potongan dengan Bumbu lalu remas-remas hingga rata. Tutup wadah dan simpan di dalam kulkas selama minimal 3 jam. Tujuannya agar cairan di dalam ayam keluar dan bumbu meresap.

4. Tepung Bumbu
Sebagai bahan pelapisnya, siapkan 150 g tepung terigu dan campur dengan 50 g tepung maizena, 1 sdt merica bubuk dan 2 sdt garam. Aduk hingga tercampur rata.

5. Adonan Telur
Kocok 1 butir telur ayam bersama 200 ml susu cair hingga menyatu. Campuran ini memberi rasa gurih dan berfungsi sebagai perekat.

6.Melapisi Telur
Lap potongan ayam dengan tissue dapur hingga kering. Jika masih berair ayam tidak bisa renyah. Celupkan tiap potong ayam dalam Adonan Telur hingga rata termasuk di bagian bawah kulit dan tulangnya

7.Melapisi Tepung
Lapisi tiap potongan ayam dengan Tepung Bumbu hingga rata. Tekan-tekan hingga menempel dan seluruh bagian tertutup tepung

8.Menggoreng
dalam minyak panas. Jangan terlalu banyak memasukkan potongan ayam. Tiap kali 3-4 potong. Goreng hingga kuning keemasan dan kering merata. Karena merupakan makanan gorengan, sebaiknya nikmati selagi panas agar terasa krenyes renyah gurih tepung dan ayamnya. Saus sambal atau saus tomat bisa jadi pelengkapnya.

Tempat Kursus Memasak Ayam Goreng Fried Chicken

Kriuk renyah fried chicken digemari banyak orang. Tak heran, mulai dari gerobak sampai jaringan restoran cepat saji ternama tak pernah sepi pembeli. Tertarik membuka usaha fried chicken? Kursus dulu di sini!

Agar fried chicken yang dihasilkan enak, bertepung renyah dan keriting, serta menguntungkan, Anda perlu belajar dari pakarnya. Di Jakarta dan Serpong, ada beberapa tempat kursus yang bisa jadi pilihan. Berikut informasi tempat kursus yang diperlukan:

1. Kursus Masak Bee
Jadwal: setiap Selasa, 09:00-11:00
Biaya: Rp 600.000
Keterangan: kursus trik memotong ayam, membumbui, dan memberi tepung. Praktik langsung dan bawa pulang hasilnya. Bisa mengulang gratis dengan membawa resep asli.
Alamat: Jl. Ratu Kemuning blok A2/10C, Taman Ratu (sebelah Bank Permata Taman Ratu), Jakarta Barat
Telepon: 021-5635450, 021-26808881, 08159008881

2. Kursus Fried Chicken a la KFC
Jadwal: -
Biaya: Rp 500.000
Keterangan: kursus teknik dan trik agar fried chicken gurih, keriting, dan renyah.
Alamat: Jln. Pulogebang No.43, Jakarta Timur
Telepon: 021-93489359, 081585085012

3. Kursus Masak Fried Chicken
Jadwal: -
Biaya: Rp 350.000
Keterangan: termasuk makalah, bahan praktik (ayam, tepung, minyak goreng), contoh tepung untuk dibawa pulang.
Alamat: Jl. H. Mairin No. 84, Ulujami, Jakarta Selatan
Telepon: 087884551921

4. UKMKU
Jadwal: -
Biaya: Rp 230.000
Keterangan: termasuk makalah, bahan, alat, praktik langsung, makan siang, dan hasil kursus dibawa pulang.
Alamat: Jl. Poncol Raya No. 1, Cirendeu, Lebak Bulus, Jakarta Selatan
Telepon: 021-70038143, 08567194353

5. Tristar Institute
Jadwal: hubungi langsung
Biaya: Rp 750.000
Keterangan: kursus cara memproduksi tepung fried chicken resep industri yang renyah dan tahan sampai tiga jam, plus resep ayam kremes, ayam tulang lunak, dan ayam crispy.
Alamat: Komplek Ruko BSD Sektor 7, blok RL 31-33, Serpong, Tangerang
Telepon: 021-53151389, 08883271088

Bisnis Pendidikan Stella Maris Beromzet 100 Milyar Kini Membuka Peluang Waralaba Franchise

Passion merupakan motor terbesar Pierre Senjaya dalam membesarkan bisnisnya di dunia pendidikan. Didikan orang tua yang selalu memprioritaskan pendidikan membuat Pierre menikmati aktivitasnya di bisnis sekolah dan konsultan pendidikan.

Bisnis pendidikan merupakan salah lini usaha yang potensial dikembangkan di Tanah Air. Tengok saja kisah Pierre Senjaya yang sukses berbisnis pendidikan lewat jaringan sekolah Stella Maris.

Stella Maris merupakan sekolah pendidikan formal yang mengelola taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA). Saat ini, Stella Maris memiliki dua sekolah milik sendiri dan dua sekolah milik terwaralaba. Tahun 2011, omzet bisnis sekolah ini mencapai sekitar Rp 100 miliar.

Pierre yang kini menjabat sebagai Direktur Stella Maris International Education memang bukan pendiri Stella Maris. Dia adalah penerus dari usaha yang didirikan oleh sang ibu, Strella. Meski hanya penerus, bukan berarti Pierre tidak terlibat saat Stella Maris berdiri. Bahkan di tangannya, Stella Maris terus berkembang dan memiliki beberapa cabang. Ia pula yang membuka kerja sama waralaba.

Selain mengembangkan sekolah formal, Pierre juga membuka bisnis pendidikan di bidang pembentukan karakter, pendidikan karier, dan bisnis konsultan pendidikan di bawah bendera Asia One Consulting dan Success Academy Indonesia. “Sekolah yang datang untuk berkonsultasi sudah cukup banyak. Dari 2010 hingga sekarang, sudah ada 20 sekolah,” ujar pria kelahiran Jakarta, 1 September 1979 ini.

Pierre bercerita, cikal bakal Stella Maris adalah keprihatinan terhadap anak-anak panti asuhan Padang Gembala milik ibunya yang tidak memiliki sekolah standar. Akhirnya, sang ibu membuka sekolah Stella Maris pada tahun 1995 di kawasan Serpong. Ia memulai dengan dua ruko. “Kami membuka untuk umum, selain untuk anak panti sendiri,” ujar suami Susan Angela ini. Kelas yang dibuka adalah untuk TK dan SD.

Saat sekolah Stella Maris dibuka, Pierre masih duduk di sekolah menengah atas (SMA). Meski sebagai pelajar, dia sempat berkeliling menyebarkan brosur dan memasang spanduk Stella Maris di pasar hingga ke pusat perbelanjaan. “Selama enam bulan kami berpromosi secara tradisional. Syukur, respons cukup bagus. Kami mendapat 200 murid,” kenangnya. Setelah itu, sekolah terus berkembang, dari dua ruko menjadi empat ruko, bahkan sampai delapan ruko pada tahun 1999. Jenjang pendidikannya juga bertambah, ada SMP dan SMA.

Saat kuliah di Universitas Bina Nusantara jurusan akuntansi, Pierre diserahi tanggung jawab mengelola keuangan dan administrasi Stella Maris. “Saya padatkan kuliah menjadi empat hari seminggu supaya bisa mengurus Stella Maris,” ujar anak kedua dari dua bersaudara ini. Ia juga diserahi tugas membenahi sistem teknologi informasi untuk memudahkan laporan keuangan dan administrasi.

Setelah lulus kuliah pada tahun 2001, sembari menjalankan pengelolaan Stella Maris, Pierre menjadi programmer di Bank Lippo. “Saya ingin mencari pengalaman lain,” dalihnya. Ia juga melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Pelita Harapan dengan mengambil jurusan Teknologi Pendidikan. Di Bank Lippo, Pierre hanya bertahan setahun, dan kemudian pindah ke PT Rimba Dana sebagai system analyst selama setahun. Setelah itu, ia terlibat total di pengelolaan Stella Maris.

Kurang modal

Stella Maris maju semakin pesat. Tahun 2004, sekolah itu menerapkan sertifikasi ISO 9001: 2000. Setelah studi banding sekolah di Singapura dan Australia, Pierre lantas mengadopsi kurikulum International Baccalaureate (IB) dan kurikulum Cambridge yang menitikberatkan pada kemampuan akademik. Jumlah siswanya pun terus bertambah menjadi sekitar 2.500 siswa.

Sukses di sekolah reguler, Pierre mulai merintis sekolah internasional. “Untuk mendirikan sekolah ini, kami butuh modal puluhan miliar rupiah, cash flow kami tentu tidak mencukupi,” kenangnya. Dia mencoba mencari pinjaman ke bank. Tapi, dua bank menolak proposal pengajuan kredit.

Alhasil, Pierre mulai mempelajari secara detail proposal kredit. Dia mencari tahu kriteria bisnis model seperti apa yang bisa meyakinkan bank. Berkat cara ini, dia berhasil mendapatkan utang dari salah satu bank swasta nasional. “Mereka melihat arus keuangan kami sehat dan penambahan jumlah murid pesat,” katanya.

Pierre juga sempat menghadapi sengketa dengan warga di sekitar lahan yang bakal dibangun sekolah internasional di Summarecon Serpong. “Hanya karena kesalahpahaman, mereka mendemo. Tapi, syukur, itu bisa diatasi,” ujarnya. Tahun 2006, dia membuka sekolah internasional Stella Maris.

Kesuksesan Stella Maris di bisnis pendidikan membuat banyak pihak tertarik. “Beberapa ingin membuka cabang, tapi kami belum siap. Tahun 2009, kami baru berani menawarkan waralaba,” ujar Pierre. Saat ini, ia menargetkan menambah lima cabang setiap tahun.

Selain berbisnis pendidikan, Pierre juga mempunyai bisnis pribadi, yaitu jasa leasing sepeda motor besar dan penjualan vila mewah di Bali.

Menilai Keuntungan Peluang Bisnis Kemitraan Kuliner Hokky Group

Hokky Group menawarkan kemitraan bisnis kuliner. Ada 11 merek makan an dan minuman yang ditawarkan. Paket investasinya mulai Rp 18 juta-Rp 95 juta. Omzet ditargetkan Rp 700.000-Rp 1,5 juta per hari.

Bisnis kuliner terus berkembang. Dari waktu ke waktu ada saja pemain baru di bisnis ini. Aneka makan an seperti piza, steik, bento, pasta, burger, martabak, dan donat adalah beberapa jenis makan an yang paling banyak dijajakan para pengusaha kuliner.

Nah, di Bandung, Jawa Barat, ada seorang pemain yang langsung menggabungkan beberapa jenis makan an tersebut dalam satu bendera usaha. Dia adalah Hokky Carnegie, yang mengelola bisnis kuliner di bawah bendera usaha bernama Hokky Group.

Selain beberapa menu tadi, ia juga menawarkan menu lain, seperti chicken dan sup. Di minuman, ia menawarkan kopi, jus dan es krim.

Masing-masing menu tersebut dikemasnya dalam brand yang terpisah-pisah. Di antaranya Hokky Pizza, Hokky Steak, Hokky Bento, Hokky Pasta, Hokky Burger, Hokky Martabak, Hokky Chicken, Hokky Donat, dan Hokky Zuppa Soup. Untuk minuman ada Hokky Coffee dan Hokky Juice & Ice Cream.

Jadi, total ada 11 merek makan an dan minuman. Harga makan an dan minuman di tiap brand rata-rata berkisar Rp 6.000-Rp 8.000 per porsi.

Memulai bisnis sejak 2011, pada Maret 2012, Hokky, menawarkan kemitraan dengan konsep booth dan resto. Untuk tipe booth, ia mematok biaya investasi sebesar Rp 18 juta. Investasi itu sudah meliputi peralatan lengkap, pelatihan, dan bahan baku awal. Mitra yang mengambil paket ini hanya boleh memilih satu brand usaha.

Omzet mitra diperkirakan Rp 400.000-Rp 700.000 per hari. Dengan laba 15 persen, mitra bisa balik modal dalam waktu empat bulan. “Kami tak ada franchise fee,” katanya.

Khusus untuk paket resto, mitra bisa memilih dua brand yang diinginkan dan dianggap cocok dengan karakteristik lokasi yang dipilih oleh mitra. Bila nantinya kurang menguntungkan, mitra bisa saja mengubah pilihan brand-nya. “Jadi lebih fleksibel,” ucap Hokky.

Paket resto ini dibanderol Rp 95 juta yang mencakup peralatan lengkap, pelatihan, bahan baku awal, meja kursi serta dekorasi tempat.

Untuk paket ini, omzet mitra ditargetkan mencapai Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per hari. Dengan laba sebesar 15 persen dari omzet, mitra yang mengambil paket resto bisa balik modal dalam setahun.

Saat ini, Hokky Group telah memiliki enam mitra yang semuanya mengambil paket booth. Para mitra ini tersebar di Palembang, Surabaya, Denpasar, dan Balikpapan.

Dari enam mitra itu, ia baru berhasil menjual empat brand, yakni Hokky Pizza, Hokky Coffee, Hokky Bento, dan Hokky Pasta. “Tapi beberapa brand sudah ada peminatnya,” ujarnya.

Erwin Halim, konsultan dan pengamat waralaba dari Proverb Consulting, menilai, konsep kemitraan Hokky Group yang menawarkan banyak brand justru akan membingungkan calon mitra usaha. Soalnya, dengan banyak brand, Hokky Group tidak memiliki fokus.

Padahal, brand-brand itu semuanya sudah banyak di pasaran. “Tawaran kemitraan tanpa brand tak punya kekuatan,” jelas Erwin.

Ia menyarankan, Hokky Group fokus membangun produk unggulannya dulu. Setelah memiliki produk unggulan, barulah Hokky Group dapat meluaskan usahanya

Membeli Franchise Kursus Bahasa Inggris Sekarang Menjadi Investasi Yang Menguntungkan

Persaingan global yang semakin ketat menuntut setiap orang memiliki kemampuan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Di Indonesia, setiap siswa yang telah menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi, bisa dikatakan rata-rata telah mendapatkan pelajaran bahasa Inggris lebih dari 10 tahun. Sayangnya, menurut beberapa survei, tingkat penguasaan bahasa Inggris di Indonesia masih di bawah negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, hingga Filipina.

Tom Randolph, dari US English Language Fellow, lembaga bentukan kedutaan Amerika Serikat, mengatakan, hal itu disebabkan pendidikan bahasa Inggris di Indonesia lebih banyak menghafal daripada memahami. Hal ini, menurutnya, menjadi tantangan penguasaan bahasa Inggris di Indonesia.

Untuk menjawab tantangan tersbeut, ELTI Gramedia (ELTI), lembaga kursus pendidikan bahasa Inggris yang telah berdiri sejak tahun 1989, mengenalkan konsep pengajaran bahasa Inggris yang lebih banyak praktik, dijelaskan dengan mudah dan menyenangkan, namun tetap tidak meninggalkan pemahaman kaedah berbahasa yang baik, benar, dan akurat.

“Kami hadir bukan untuk menggantikan pendidikan yang formal, tapi lebih bersifat melengkapi. Sehingga, ELTI memang punya kurikulum sendiri yang bertujuan melatih siswanya agar mampu berbahasa Inggris secara baik, benar, dan akurat,” sebut Evelina Kusumawardhani, Direktur Akademik ELTI, pekan lalu, di Surabaya, Jawa Timur.

Dengan konsep tersebut, dalam perjalanannya lebih dari 20 tahun, siswa ELTI telah mencapai ratusan ribu dan tersebar di seluruh Indonesia. Mengingat kebutuhan yang terus meningkat di berbagai daerah seluruh Indonesia, dibuka peluang investasi bisnis pendidikan melalui sistem franchise.

“Sejak pertengahan tahun ini, tepatnya bulan Juni lalu, kami resmi menawarkan kesempatan untuk berbisnis pendidikan bahasa Inggris dengan sistem franchise. Dibangun dengan sistem pendidikan yang telah teruji, serta dukungan dari perusahaan besar Kelompok Gramedia, membuat ELTI adalah pilihan franchise yang pasti menguntungkan,” ujar Jerry Udampo, Franchise Director ELTI Gramedia.

Di Jawa Timur sendiri, ELTI berpartisipasi pada acara Info Franchise & Business Concept (IFBC) Expo “Ayo Berwirausaha” di Gramedia Expo, pada 9 -11 Desember 2011 untuk memberi kesempatan bagi investor potensial di seputaran Jawa Timur dan Indonesia bagian Timur lainnya.

Menurut Jerry, pasar pendidikan bahasa Inggris di Jawa Timur dan sekitarnya masih terbuka sangat luas.

“Sebagai salah satu provinsi yang memiliki jumlah perguruan tinggi paling banyak, ditambah 1000 lebih pondok pesantren yang mengajarkan bahasa Inggris, plus makin maraknya sekolah bertaraf internasional di Jawa Timur, ini merupakan pasar yang sangat potensial,” tambah Jerry.

Franchise Fee ditawarkan Rp200 jutaan, yang diperkirakan modal akan kembali pada tahun ketiga. Saat ini ada satu franchisee yang sudah beroperasi dan empat lainnya menunggu peresmian. Lokasinya tersebar di Makasar, Batam, Tasikmalaya, dan beberapa lokasi lain yang sedang menunggu approval dan survei.

Sebelumnya, cabang yang dimiliki ELTI sendiri sudah ada di 11 lokasi di wilayah Jawa dan Sumatra.

“Di ELTI kami memang tak sekadar menerima investor yang memiliki uang, tapi mereka yang punya komitmen besar untuk memajukan dunia pendidikan, terutama bahasa Inggris di Indonesia,” kata Jerry

Kemilau Prospek Toko Perhiasan Perak

Boleh jadi, lantaran harga emas semakin mahal, banyak orang yang melirik perhiasan berbahan perak sebagai alternatif. Lagi pula, kendati turut menanjak, laju harga perak lebih stabil ketimbang emas. “Bisnis perak juga tidak mengenal musim sehingga harganya cenderung stabil,” kata Asep Mustafa, pemilik Amani Silver, Bandung.

Menurut dia, saat ini perak telah menjadi tren dalam dunia fashion. Karena itu, jika penjual bisa mengelola bisnis ini, keuntungan mencapai 100 persen bisa diperoleh. Selain sebagai perhiasan, perak juga bisa menjadi alternatif investasi berisiko relatif kecil dan modal terjangkau.

Perak asal Hongkong dan China

Potensi bisnis perak yang bisa tumbuh pesat itu menjadi alasan Asep menawarkan konsep kemitraan toko perhiasan perak, Amani Silver, pada Februari 2011. Saat ini Amani Silver menjual beraneka model perhiasan perak.

Berbeda dengan toko perak di Kota Gede, Yogyakarta, yang membuat kerajinan perak sendiri, Amani Silver hanya reseller. Toko ini menjual aneka kerajinan perak impor dari Hongkong dan China.

Nah, agar bisa menjadi mitra Amani Silver, Asep menawarkan tiga paket kemitraan. Pertama, paket A dengan investasi Rp 75 juta. Kedua, paket B dengan investasi Rp 100 juta. Ketiga, paket C dengan investasi Rp 125 juta. Nilai investasi tersebut belum termasuk sewa tempat, pajak, dan izin usaha.

Pada paket A, mitra akan memperoleh perhiasan perak sebesar 1,5 kg. Di paket B, mitra mendapat perhiasan perak seberat 2 kg. Mitra usaha Asep akan mendapat perak seberat 3 kg jika mengambil paket C. Selain perhiasan perak, mitra juga akan mendapat perangkat etalase, brankas, timbangan digital, seperangkat alat tulis kantor (ATK), hingga alat promosi.

Asep berjanji melatih mitranya yang tak mengerti soal perhiasan perak. Dia akan mengajarkan kepada mitra cara membedakan perak yang bagus serta cara menyepuh dan membersihkan perhiasan berbahan perak.

Asep menghitung, omzet per hari mitra bisa mencapai Rp 1,5 juta. “Asumsinya setiap hari bisa menjual lebih dari 50 gram,” katanya. Sebagai catatan, saat ini harga jual perak berkisar antara Rp 25.000 dan Rp 30.000 per gram.

Dengan asumsi tersebut, Asep mengatakan, keuntungan mitra setiap bulan akan sekitar Rp 19 juta. Walhasil, masa balik modal akan tercapai dalam tiga bulan–empat bulan untuk paket A.

Asep memang tidak memungut franchise fee. Namun, ia mewajibkan mitra untuk membeli perhiasan perak dari Asep. “Harga pembelian perak sebesar Rp 22,5 juta untuk 1 kg perhiasan,” katanya.

Amir Karamoy, Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), mengakui, perhiasan perak memang sedang menjadi tren. Hanya, “Pasarnya masih segmented dan dimiliki komunitas tertentu,” ujar Amir.

Oleh karena itu, bagi masyarakat yang tertarik dengan tawaran ini disarankan mengambil lokasi di mal besar. Selain itu, karena masih baru, investor harus lebih aktif memasarkan perak.

Trik Jitu Memulai Bisnis Donat Kentang

Donat kentang kadang masih sering dianggap donat ‘kelas dua’. Tapi dengan cara pembuatan, pengemasan, dan pemasaran yang unik, donat ini laris manis diserbu pembeli.

Sekurangnya itu yang dialami tiga pemilik bisnis donat kentang. Anita, pemilikDonutboyz mengungkapkan, ia punya resep andalan untuk produk donatnya. “Perbandingan adonan antara kentang dan terigu 70% dan 30%.” Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 25 kg kentang. Sementara Lina, yang memakai merek Donut Lina’s, memadukan 75% kentang dan 25% terigu. Ia bahkan sudah menyimpan kentang sejumlah 1,5 kuintal untuk produksi sebulan, yang didatangkan langsung dari daerah Dieng.

Bagaimana dengan Yummy Donuts, yang dimiliki Nency Sinatra? “Wah, maaf, ya, campuran adonannya masih rahasia perusahaan,” Nency tertawa. Tapi, Nency bercerita, ia menggunakan bahan-bahan dasar berkualitas baik. Misalnya, untuk taburan donat, ia tak memakai gula halus biasa, melainkan gula bercita rasa mint yang segar dan dingin di lidah. Pelanggan boleh memilih, gula itu akan dicampur atau ditempatkan di plastik terpisah. Susu pun tak sembarangan.

Ia memilih yang agak mahal, agar rasa donatnya lebih enak.
Selanjutnya, ia menciptakan berbagai variasi rasa. Selain donat polos (donat biasa plus gula halus), ia menjual donat berisi 3 rasa selai, yaitu cokelat, stroberi, dan blueberry. Tapi, variasi ini tidak jual di gerainya di ITC Kuningan, karena tempatnya sangat kecil. Harga donat isi berbeda dari donat polos, yaitu Rp2.500. Selain itu, ia membuat donat polos mini, seharga Rp1.000 per buah.

Lina tak mau ketinggalan dalam urusan topping. Terinspirasi dari donat-donat mewah yang ada di mal, ia menciptakan sejumlah variasi topping. Misalnya, dalam satu donat, ia memadukan dua topping, yaitu kacang dan keju, abon dan keju, serta cokelat dan keju.

Penampilannya terlihat cantik. Variasi nama-nama donatnya pun cukup unik, misalnya zebra strawberry, durian mutiara, dan cheese me up. Sebelum melempar hasil inovasinya ini ke pasar, ia meminta bantuan para tetangga untuk icip-icip dan memberi masukan. Sekarang ia sudah mengembangkan 20 variasi dengan harga Rp3.000. Tapi, donat yang polos masih tetap ia jual seharga Rp2.500. Saat mengirimkan donatnya kepada pelanggan, ia mengemas donat itu satu per satu dengan bungkus plastik yang sudah disablon dengan logo, lalu menyusunnya dalam kotak.

Demikian juga yang dilakukan Anita. Kini ia sudah memiliki 55 variasi topping, antara lain keju, abon, cokelat dengan strawberry di tengahnya, serta almond. Hampir setiap bulan ia mencoba membuat suatu terobosan baru. Misalnya, selain ada donat yang tak bolong di tengah, ia menciptakan bentuk donat bergerigi dan bentuk tokoh kartun anak, seperti Sponge Bob.

“Topping ini tidak dikerjakan oleh ibu mertua. Saya memiliki beberapa pegawai yang masih muda untuk mengerjakannya, sekaligus untuk menyumbangkan ide,” kata Anita, yang juga berprofesi sebagai notaris. Harga donat yang dijualnya antara Rp3.000–Rp5.000. Meski banyak variasi yang ditawarkan, Anita melihat bahwa donat yang original –donat polos dengan taburan gula halus– justru masih menjadi favorit pelanggan.

Mengembangkan Sayap
Meski cuma punya satu booth, pernah ada seorang konsultan bisnis yang memberi saran agar Anita membuka franchise. “Saya melihat, banyak bisnis serupa yang sudah lebih dulu menjadi franchise, misalnya hotdog dan burger. Karena itu, kami pun pede mengembangkan bisnis ini menjadi franchise sejak pertengahan 2005. Lalu, saya ikut pameran franchise di Yogya, memasang iklan di majalah franchise dan di sebuah tabloid bisnis,” katanya, berbagi pengalaman.

Seiring dengan hal itu, Anita terus menambah jumlah outlet-nya (kini mencapai 8 buah, semua di Solo). Konsep penjualannya ikut bervariasi. Tak hanya booth, tetapi juga menjadi mobil toko, kafe, dan bakery shop. Masing-masing membuahkan jumlah omzet berbeda. Secara total, rata-rata omzet per hari sekitar Rp5 juta, dengan menjual sekitar 1.300 donat. Saat ini omzet terbesar datang dari bakery shop. Karena itu, ia mengarahkan para franchisee (pembeli franchise) untuk menerapkan konsep itu.

Sistem franchise-nya ada dua. Pertama, sub-area franchise. Misalnya, seorang pengusaha dari Yogya membeli franchise Donutboyz. Artinya, dialah pemegang franchise untuk seluruh gerai di Yogya. Kalau ada orang lain di kota itu yang tertarik, dia harus membelinya dari pemegang pertama. Biaya pembelian franchise itu Rp350 juta. Kedua, franchise bakery shop, yang dibagi lagi menjadi dua, yaitu dengan peralatan sederhana (Rp160 juta) dan dengan dapur modern (Rp249 juta).

Sekarang ini sudah ada 121 gerai Donutboyz di 14 kota di Indonesia, seperti Jakarta, Denpasar, dan Medan.
Nency pun tak puas hanya punya satu gerai. Ia membuka beberapa gerai lagi di Jakarta, yaitu di Pasar Festival, Mal Klender, dan Corner Tebet Utara (CTU). Sistem franchise juga ia kembangkan. Klien pertamanya adalah kakaknya sendiri, yang membuka 2 gerai franchise di Yogya. Harga franchise adalah Rp10 juta, sudah termasuk booth, training, seragam, perlengkapan, dan kemasan kotak. Ia juga mengenakan fee 5% dari omzet bulanan franchisee.

Sebelum meluluskan permintaan franchise, Nency harus memastikan bahwa lokasinya bagus. “Lokasinya harus benar-benar dilewati orang banyak. Sebaiknya, tidak di dekat rumah makan atau food court. Karena, setelah makan kenyang, pengunjung biasanya tidak ngemil,” kata Nency, berbagi tip.

Sedangkan Lina mengembangkan usahanya dengan mengerahkan tenaga sales untuk menyebarkan brosur. Ia juga membuat website khusus. Website itu memuat informasi tentang variasi produk Donut Lina’s, termasuk harga dan foto-foto produk yang menarik. Di rumahnya memang tidak ada papan nama, namun ia menempelkan brosur di depan rumahnya, agar bisa dilihat oleh orang yang lewat. Dalam sehari, ia bisa membuat donat antara 250–500 buah, untuk dibawa tenaga sales. Dari pesanan dan penjualan langsung itu, ia bisa mendapat omzet rata-rata per bulan Rp9 juta–Rp10 juta.

The Family Spa Bisnis Luhur dan Pijat Refleksi Rumahan Dengan Omzet 2 Juta Per Hari Kini Membuka Warlaba

 Badan pegal-pegal atau capek? Jangan khawatir, saat ini sudah banyak tawaran layanan rileksasi, seperti spa, lulur, totok, hingga pijat refleksi yang bisa membuat badan kembali bugar.

Menyasar kalangan menengah atas, jasa rileksasi mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan. Masyarakat kota memang kerap dilanda stres akibat tekanan pekerjaan atau kemacetan lalu lintas.

Layanan inilah yang coba ditawarkan Olivia Antoni, pemilik The Family Spa dari Cilegon, Banten. Mengusung konsep spa keluarga, Family Spa hadir dengan dekorasi etnik modern bertema tradisional Jawa. “Lebih unik, mewah, dan eksklusif,” kata Olivia.

Walau sudah berdiri sejak 2007, Olivia baru menawarkan waralaba bisnis Family Spa pada Juni 2011. Cukup lancar. Meski baru sebulan, Olivia sudah bisa menjaring dua terwaralaba, yakni di Jambi dan Makassar. Adapun dua calon terwaralaba lagi masih tahap penjajakan.

Jika Anda juga tertarik mencicipi waralaba Family Spa, Olivia menawarkan dua paket waralaba. Paket pertama hanya membayar franchise fee sebesar Rp 35 juta. Kalau mengambil paket ini, terwaralaba akan mendapatkan hak penggunaan nama selama tiga tahun.

Paket kedua merupakan paket lengkap dengan nilai investasi sebesar Rp 190 juta. Calon terwaralaba yang memilih paket ini, selain memperoleh perlengkapan, juga tidak perlu memikirkan uang sewa tempat.

Dengan paket lengkap, pewaralaba akan mencarikan tempat usaha dengan nilai sewa Rp 20 juta per tahun berukuran 4 m x 10 m. Tak hanya itu, akan disediakan juga tenaga terapis dan pendampingan manajemen.

Selain membayar dana investasi, tiap bulan terwaralaba juga harus membayar royalty fee sebesar 5 persen dari omzet per bulan. Dengan asumsi ada 10 sampai 15 pelanggan yang datang, Olivia menghitung, setidaknya omzet terwaralaba akan mencapai Rp 1 juta–Rp 2 juta per hari. Alhasil, balik modal diperkirakan hanya butuh waktu enam bulan sampai delapan bulan.

Perkiraan omzet itu bakal tercapai, karena Family Spa memakai metode shiatsu asal Jepang. Mengenai bahan baku spa, seperti krim lulur, didatangkan langsung dari Bali dengan harga berkisar antara Rp 10.000–Rp 30.000 per paket.

Tak hanya itu, untuk menjaga kualitas layanan, Family Spa hanya merekrut terapis berpengalaman minimal lima tahun. Dengan pengalaman tersebut, terapis diharapkan bakal memberikan pelayanan profesional untuk pelbagai jenis paket yang ditawarkan.

Paket jasa rileksasi yang ditawarkan antara lain, pijat, body scrap, mandi susu, totok wajah, dan mandi sauna. Tarif untuk bisa menikmati layanan itu berkisar antara Rp 180.000 hingga Rp 250.000. “Untuk jasa senilai Rp 250.000 khusus untuk wanita,” jelas Olivia.

Salah satu terwaralaba Family Spa di Makassar, Umiyati, mengaku tidak kecewa setelah mengambil tawaran investasi ini. Umiyati atau akrap dipanggil Etty tertarik menjadi terwaralaba karena biaya investasinya murah.

Apalagi dengan dukungan peralatan yang lengkap membuat Etty bisa menjalankan bisnis tanpa pusing lagi. “Walaupun murah, kualitas dari berbagai support perlengkapannya tidak mengecewakan,” katanya.