Gitar Lokal Merek Stranough Yang Mampu Menembus Pasar Kelas Dunia

Berawal dari hobi, Muhammad Satrianugraha (30) sukses berbisnis gitar. Tak hanya pasar dalam negeri, gitar merek Stranough karyanya mampu menembus pasar dunia sekaligus mengantarnya meraih segudang penghargaan di bidang kewirausahaan.

Bagi Hanung, panggilan Muhammad Satrianugraha, gitar tak hanya mengalunkan nada, tetapi juga membisikkan banyak hal tentang hidup. Ketekunan dan kerja keras mengantarnya menjadi salah satu luthier (ahli membuat dan memperbaiki alat musik berdawai) andal Indonesia.

Hanung juga berkesempatan bertemu dan belajar dari luthier kelas dunia, seperti Phil Neal, Daniel Turner, Joe Glaser, Buddy Blaze, Michael Dubach, dan Jorg Kuhlo. Dari mereka, Hanung belajar teknik membuat dan memperbaiki gitar, memilih bahan baku, sekaligus filosofi hidup, seperti kebersahajaan, berbagi dengan orang lain, dan berbisnis dengan etis.

Hanung sebenarnya tak punya ”darah” musisi atau pengusaha. Namun, dia getol bermain gitar sejak di sekolah menengah. Dia juga membentuk band dengan teman-temannya. Tahun 2002, saat kuliah di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung, dia ngidam punya gitar berharga belasan juta rupiah. Namun, uangnya sangat tak cukup. Dia akhirnya datang ke sebuah bengkel gitar di kawasan Sarijadi, Kota Bandung. Harapannya, bisa memiliki gitar dengan harga murah, tetapi berkualitas baik.

Berbekal keinginan, Hanung mempelajari soal gitar dari internet dan dari siapa saja, termasuk perajin di bengkel. Tak puas dengan memesan gitar, Hanung akhirnya memberanikan diri membuka bengkel. Dia yakin bisa memproduksi gitar lebih baik.

Beragam celah dia coba untuk memasarkan karyanya, termasuk lewat dunia maya. Tahun 2003, usaha Hanung menuai hasil seiring datangnya pesanan, antara lain dari Belanda dan Malaysia. Tenaga kerja, mesin, dan manajemen belum terwujud utuh, tetapi dia memberanikan diri menerima pesanan itu.

Dengan modal terbatas, Hanung pun membuat sampel gitar dan mengirimkannya ke luar negeri. Hasilnya di luar dugaan, sampel yang dia kirim diterima. Seorang calon pembeli asal Belanda memesan 250 unit. Sejak itu, pesanan terus mengalir dan pembeli menyatakan puas dengan gitar buatannya.

Kualitas

Hanya tiga tahun sejak merintis CV Stranough yang dirikan tahun 2002, gitar produksi Hanung mulai dilirik pembeli di luar negeri. Pemasaran secara online dia terapkan untuk memudahkan interaksi jarak jauh tersebut.

Tahun 2005, Stranough mulai membuka divisi komponen gitar serta melayani pemesanan softcase dan hardcase gitar. Ketika itu, Stranough mulai bekerja sama dengan Phil Neal, ahli yang memperbaiki gitar Jeff Beck dan Jimmy Page (Led Zeppelin), serta Pepijn de Blecourt untuk pembuatan gitar.

Usaha pun berkembang. Tahun 2006, selain dikirim ke sejumlah kota di Indonesia, gitar Stranough juga dikirim ke Belanda, Finlandia, Jepang, Malaysia, Singapura, Australia, dan Amerika Serikat dengan omzet rata-rata Rp 3 miliar per bulan. Padahal, usaha itu dirintis dengan modal Rp 7,5 juta.

Awal tahun 2011, Hanung berkesempatan ikut pameran musik terbesar yang digelar dua kali dalam setahun di Amerika Serikat, yakni The National Association of Music Merchants (NAMM) Show 2011. Kian kuat kiprahnya di pasar internasional.

Faktor kualitas menjadi kunci keberhasilan Hanung menembus pasar dunia. Hanung detail memperhatikan setiap unsur pembentuk gitar, mulai dari jenis dan kualitas bahan baku kayu hingga jarak dan kekuatan suara dari senar. Ibarat manusia, Hanung mencatat ”riwayat medis” gitar sebagai rujukan ”penyembuhan” di kemudian hari.

”Pemain gitar profesional biasanya tak sering ganti gitar. Oleh karena itu, pencatatan riwayat medis gitar andalannya sangat penting untuk memudahkan perbaikan jika rusak atau ada yang berubah,” ujarnya.

Hanung mendatangkan beberapa komponen gitar, seperti senar, pick up, tremolo, dan tuning, dari luar negeri, antara lain Amerika Serikat dan Korea Selatan. Sebagian bahan baku kayu white ash diimpor dari Kanada, sementara jenis mahoni dari Jawa.

Hanung merasa masih perlu belajar. Kini, di tengah proses belajar itu, dia selalu sempat untuk berbagi. Harapannya, orang-orang yang membutuhkan terbantu mengatasi persoalannya dan bangkit dari keterpurukan.

Prinsip berbagi dia terjemahkan dalam sejumlah hal. Hanung antara lain membuka ruang bertukar pengetahuan dan pengalaman soal gitar melalui konsultasi gratis. Interaksi dengan calon pembeli, pelanggan, atau pencinta gitar dia lakukan lewat situsnya, www.guitar-technology.com, surat elektronik, maupun tatap muka di kantornya di Jalan Surapati 153 B, Bandung.

Hanung juga membagi pengetahuan dan pengalamannya di ruang-ruang seminar atau pelatihan wirausaha. Setelah kursus bermain gitar, kini dia merintis sekolah pembuatan gitar. Baginya, semakin banyak orang mengetahui seluk-beluk pembuatan gitar, perlakuan terhadap gitar akan semakin baik. Bukan tidak mungkin muncul wirausaha muda baru, tetapi Hanung tidak khawatir usahanya redup.

Hanung mewujudkan mimpi berbagi melalui program yang dia beri nama stairway to heaven. Sebuah program sosial yang mewadahi sumbangan dari dermawan, terutama Stranough Brotherhood, dan sebagian keuntungan usaha Stranough disalurkan kepada orang-orang kecil yang terimpit ekonomi. Ini salah satu wujud dari prinsip yang dipegang teguh Stranough, yakni berbisnis dengan melibatkan Tuhan (beretika) dan hidup untuk berbagi.