Peluang Usaha Minuman Bekatul Dengan Khasiat Antioksidan Tinggi

Bekatul padi adalah limbah penggilingan padi yang mempunyai manfaat kesehatan luar biasa. Bekatul, khususnya fraksi minyaknya, memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Formulasi minuman bekatul bisa mengoptimalkan pemanfaatan bahan limbah ini menjadi minuman fungsional.

Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) yang diketuai Prof. Dr. Evy Damayanthi berusaha mencari formulasi yang tepat secara organoleptik (cita rasanya bisa diterima konsumen) berupa minuman emulsi minyak bekatul sebagai alternatif pangan fungsional tinggi antioksidan.

Emulsi merupakan suatu dispersi cairan dalam cairan lain dimana molekul-molekul kedua cairan tersebut tidak saling berbaur tetapi saling antagonistik, yang distabilkan oleh bahan pengemulsi (emulsifier). “Minyak bekatul mengandung komponen bioaktif orizanol yang bersifat antioksidan tinggi dan dapat menurunkan kolesterol dalam darah manusia.

Komponen orizanol ini khas terdapat dalam minyak bekatul. Komponen inilah yang terlibat dalam penurunan kolesterol dalam serum manusia,” terang Staf Pengajar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB ini.

Penelitian ini diawali dengan membuat empat formula minuman emulsi minyak bekatul berbeda. Dalam proses pembuatan keempat formula tersebut, Prof. Dr. Evy menyimpulkan sugar ester sebagai emulsifier yang tepat untuk minuman minyak bekatul tersebut. “Pemanis yang kami gunakan di sini adalah sukralosa. Yaitu pemanis yang kandungan kalorinya nol kalori yang tidak dapat dicerna dan memiliki kemanisan 650 kali dibandingkan gula sehingga produk ini aman dikonsumsi penderita diabetes,”katanya.

Langkah selanjutnya menentukan penerimaan panelis terhadap minuman emulsi minyak bekatul dengan tambahan berbagai macam flavor melalui uji organoleptik. Hasilnya, formula terbaik diperoleh yakni dengan flavor stroberi 0,5 persen. Setelah didapat formula yang disukai panelis, penelitian dilanjutkan dengan menganalisis karakteristik kimia seperti analisis proksimat, kadar vitamin E, Oryzanol dan aktivitas antioksidan baik selama proses pembuatan minuman serta selama penyimpanan.

“Hasilnya kandungan gizi minuman emulsi minyak bekatul dengan flavor stroberi 0,5 persen setiap 1 cup (200 ml) mengandung orizanol 28,6 miligram orizanol, 0,17 miligram vitamin E.

Untuk kapasitas aktivitas antioksidan dari minuman ini adalah sebesar 37,09 persen dengan nilai AEAC 28,93 mg vitamin C per 100 gram.

Setelah dilakukan penyimpanan selama 2 hari sudah terlihat terjadinya sedikit penurunan karakteristik kimianya.
Selain itu, terjadi fluktuasi jumlah mikroba selama penyimpanan 8 hari, namun jumlah mikroba produk masih cukup rendah yaitu 4 koloni per mili liter, dari batas aman maksimumnya 25 koloni per mili liter

Tata Cara Pinjam Modal Usaha Untuk Wirausaha Pemula Tanpa Agunan

Ini kabar baik bagi Anda para pemuda dan ingin terjun ke dunia wirausaha. Pemerintah akan memberikan modal atau pembiayaan bagi wirausaha pemula dari kalangan anak muda di negeri ini. Pemerintah merancang sistem pembiayaan bagi Wirausaha Muda Pemula melalui pembentukan Lembaga Permodalan Kewirausahaan Pemuda (LPKP).

Pembentukan LPKP ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2013 yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 12 September 2013, dan diundangkan pada hari yang sama oleh Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin. Dalam PP itu dijelaskan bahwa LPKP adalah lembaga fasilitasi permodalan guna mendukung pengembangan kewirausahaan pemuda, yang berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.

“LPKP berfungsi memfasilitasi akses permodalan bagi Wirausaha Muda Pemula untuk mulai menjalankan usahanya,” bunyi Pasal 3 PP tersebut, seperti dikutip dari situs sekretariat kabinet, Senin (14/10). Pada aturan itu juga dijelaskan tugas LPKP, antara lain, melakukan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan bantuan permodalan wirausaha muda pemula dan melakukan pendataan sumber dana permodalan.

Selain itu, memfasilitasi penyaluran permodalan bagi wirausaha muda pemula dan mengusulkan mereka untuk mendapatkan permodalan dari lembaga permodalan, dan menyiapkan panduan bimbingan teknis di bidang manajemen keuangan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam tubuh organisasi ini, Presiden SBY bertindak sebagai Pembina, Wakil Presiden sebagai Ketua, dan Sekretaris merangkap anggota adalah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).

Adapun anggota pengarah terdapat 16 menteri yang bertugas secra ex officio. “Pengarah mempunyai tugas memberikan arahan dan pembinaan kepada pelaksana,” bunyi Pasal 7 PP No. 60/2013 itu. Sedangkan yang bertindak sebagai pelaksana adalah unit kerja eselon I di Kemenpora yang meimbidangi urusan kewirausahaan pemuda, yang dibantu oleh paling banyak 3 (tiga) kelompok kerja, dan masing-masing kelompok kerja paling banyak memiliki 5 (lima) orang anggota.

“Anggota kelompok kerja sebagaimana dimaksud berasal dari unsur Pemerintah dan professional, yang ditetapkan oleh Ketua Pelaksana,” bunyi Pasal 10 Ayat (4,5) Peraturan Pemerintah Nomor60 Tahun 2013 itu. Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas, LPKP dibantu oleh sebuah sekretariat yang secara ex officio dilaksanakan oleh unit kerja yang membicangi kewirausahaan pemuda di Kemenpora. Menurut PP ini, Pemerintah Daerah dapat membantuk LPKP daerah, dimana di tingkat provinsi bisa dibentuk oleh Gubernur, dan di tingkat Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota.

Pendanaan yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas LPKP dibebankan kepada APBN melalui anggaran Kemenpora, sedangkan pendanaan bagi pelaksanaan tugas LPKP provinsi, kabupaten/kota dibebankan pada APBD masing-masing. Selain fungsi dan tugas yang telah disebutkan, dalam PP ini ditegaskan, bahwa LPKP juga melaksanakan fungsi penguatan kapasitas kelembagaan bagi wirausaha muda pemula.

PT Askrindo (Persero) menandatangani nota kesepahaman (MoU) soal pemberian jasa asuransi kredit dengan Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM). Antonius, Chandra S Napitupulu, Direktur Utama Askrindo, menuturkan MoU tersebut bertujuan untuk mengalihkan sebagian risiko kerugian yang timbul dari risiko ketidakpastian pelunasan pembiayaan oleh Mitra LPDB kepada Askrindo.

“Nota kesepahaman ini berlaku selama dua tahun terhitung sejak ditandatanganinya Kesepahaman ini oleh Askrindo dan LPDB,” katanya, Rabu (25/9/2013). Adapun potensi bisnis dari perjanjian MoU tersebut, yakni target penyaluran pada 2013 mencapai Rp 1,9 triliun, dengan realisasi penyaluran sebesar Rp 1 triliun pada periode Januari-Agustus 2013 dan yang belum disalurkan sebesar Rp 900 miliar.

“Diperkiraan premi hingga 2013 dengan asumsi rate 1,5 persen adalah sebesar Rp 13,5 miliar,” katanya. Hingga periode Agustus atau 8 bulan berjalan pada 2013, Askrindo telah membukukan laba mencapai 73,6 persen atau setara Rp 257,6 miliar dari target proposional tahun 2013 sebesar Rp 350 miliar. Secara year on year (YoY), nilai tersebut telah mengalami peningkatan sebesar 141,8 persen.

Hingga Agustus 2013, perusahaan mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp 257,6 miliar atau setara dengan 73,6 persen dari target perusahaan yakni sebesar Rp 350 miliar. Realisasi perolehan premi hingga Agustus 2013 sebesar Rp 949,3 atau telah melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 910 miliar.

Kisah Kostaman Juragan Buah Strawberry Beromzet Ratusan Juta Rupiah

Pepatah lama yang menyatakan “hidup seperti roda berputar” tampaknya berlaku bagi Kostaman. Berawal dari menjadi asisten sopir angkutan buah dan sayuran, kini Kostaman sukses menjadi pemasok buah dan sayuran ke sejumlah gerai ritel dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Lewat perusahaan Yan’s Fruit and Vegetables, ia rutin memasok buah dan aneka sayuran segar ke berbagai supermarket ternama di Jakarta, seperti Sogo, Grand Lucky, Ranch Market, dan Papaya.

Kostaman mengawali kariernya sebagai asisten sopir angkutan pemasok buah dan sayuran dari sebuah perusahaan asal Jepang yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Profesi ini ditekuninya sejak tahun 1997.

Sebagai asisten sopir, tugas Kostaman hanya membantu sopir mengangkut dan mendistribusikan buah dan sayuran. “Tetapi, waktu itu sopirnya malas, jadi saya diminta menghadapi supervisor atau manajernya untuk administrasi dan serah terima,” kenang pria kelahiran Bandung, 31 Mei 1971, itu.

Pengalaman berhubungan dengan supervisor dan manajer ini menambah wawasan dan pengetahuan Kostaman. Ide untuk terjun langsung ke usaha ini mulai didapatnya sekitar tahun 1999. Ketika itu, Jakarta tengah dilanda krisis pasokan stroberi.

Padahal, permintaan stroberi di sejumlah gerai ritel di Jakarta sangat tinggi. Selama menjadi asisten sopir, berapa pun stroberi yang dibawa dari Bandung, selalu habis diborong peritel.

Ditambah lagi, saat itu sedang terjadi krisis pasokan stroberi. Pihak ritel pasti akan menampung bila ada pasokan stroberi. Dari situ ia kemudian tergerak memasok stroberi ke kawasan Jakarta. Kebetulan, ia tahu produsen stroberi berkualitas bagus di Bandung, yakni Ciwidey.

Berbekal relasinya dengan para manajer dan supervisor supermarket, Kostaman pun mulai menawarkan stroberi dari para petani Ciwidey.

“Dulu prosesnya lebih mudah dari sekarang. Asal kualitasnya sesuai, saya bisa memasok,” terang Kostaman yang hanya tamatan sekolah dasar ini. Sejak itulah, ia dikenal sebagai pemasok stroberi.

Saat itu, ia masih bergabung di perusahaan lama tempatnya bekerja sebagai asisten sopir. Untuk memulai usaha sendiri, ia masih terkendala modal. Akhirnya, ia mengajak temannya untuk bergabung.

Setelah mendapat teman kongsi, tahun 2000 ia mundur dari perusahaannya. “Modal awal saya Rp 7 juta,” ujarnya. Ketika itu langsung mendirikan usaha dengan brand Yan’s Fruit and Vegetables. Awalnya, ia menjalin kerja sama dengan petani melalui sistem pemberian bibit. Kini, kerja samanya telah meningkat pada tingkat pengepul.

Usaha Kostaman terus berkembang, hingga tahun 2003 ia ditawari seorang manajer untuk memasok berbagai kebutuhan sayuran di supermarket besar. Sejak itu, Kostaman rutin memasok 125 item sayuran, seperti kol, brokoli, paprika, dan cabai. “Untuk buah, saya memasok stroberi saja,” ujarnya.

Tercatat sekitar 35 supermarket di Jakarta kini berlangganan sayur dengan Kostaman. Dalam sehari ia bisa memasok lima ton buah dan sayuran ke supermarket, dengan omzet Rp 400 juta per bulan.

Ingin saingi sayur China

Kini Kostaman memiliki 24 karyawan yang semuanya merupakan warga satu kampungnya. Untuk sukses seperti sekarang, tak terhitung pengorbanan waktu dan tenaga yang dicurahkannya untuk mengembangkan usaha. “Kunci sukses saya terus bekerja keras agar usaha tidak merosot,” katanya.

Sebagai pengusaha, ia tak ingin bisnisnya menyusut yang berujung pada pemangkasan tenaga kerja. Berbagai terobosan terus dilakukan agar skala usahanya bisa terus berkembang. Salah satunya adalah dengan mengubah jadwal kerja menjadi sore hingga dini hari.

Hal itu dilakukannya demi menjaga agar buah dan sayur yang dipasoknya ke Jakarta tetap dalam kondisi segar tanpa harus menggunakan armada pendingin yang memakan biaya besar. Biasanya pengantaran dilakukan sekitar pukul 03.00 dini hari WIB dari Bandung, Jawa Barat. Bila sedang banyak pesanan, ia pun harus stand by di gudang hingga larut pagi.

Namun demikian, Kostaman mengaku bahagia menjalani pekerjaannya itu. Menurutnya, kerja keras adalah modal penting untuk menjadi seorang wirausahawan. “Dua modal utama berwirausaha, menurut saya, memiliki keberanian serta punya ketekunan berusaha,” ujar pria 42 tahun ini.

Menurutnya, uang bukanlah modal utama merintis sebuah usaha. Ia sendiri sudah membuktikannya ketika merintis usaha ini hanya dengan bermodal uang Rp 7 juta dari pinjaman seorang teman.

Menurutnya, bila usaha sudah berkembang besar, justru pihak lain seperti bank yang akan menawarkan pinjaman. “Bukan kita lagi yang mencari-cari,” ujarnya.

Kendati sudah sukses, Kostaman masih memiliki segudang rencana untuk mengembangkan usahanya. “Saya ingin terus meningkatkan mutu untuk bisa bersaing dengan pasar internasional,” ujar Kostaman.

Menurutnya, produk sayuran lokal kini bersaing ketat dengan produk luar negeri, khususnya China. Misalnya, brokoli dan wortel kini sudah dikuasai pasar China. Pasalnya, sayuran China lebih murah sehingga menarik pembeli. “Alhamdulillah sekarang impor sayuran mulai dibatasi sehingga sayuran lokal bisa bertahan,” jelas Kostaman

Bisnis Jagung Bakar Kaca Model Baru Untung 8 Juta Sebulan

Jika biasanya jagung bakar dibuat menggunakan arang dan mengeluarkan banyak asap. Kali ini, jagung bakar milik PT Usaha Anak Bangsa bermerek ‘Jagung Bakar Kaca’ mencoba menghadirkan jagung bakar yang berbeda. Jagung bakar ini berbahan dasar jagung yang utuh dalam bonggol lalu dibakar di atas kaca, dengan konsep tempat pembakaran yang didesain dan dibuat sendiri tanpa asap dan arang.

Manager HRD & General Affair PT Usaha Anak Bangsa Suhermanto mengatakan, konsep jagung bakar ini merupakan yang pertama dan satu-satunya yang ada saat ini. “Kami sajikan sesuai selera, ada jagung bakar keju susu, keju pedas, pedasnya saja, barbeque, dan pizza,” kata Suhermanto saat ditemui di Pameran Waralaba 2013, di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu (2/6/2013).

Dia menyebutkan, melalui bisnis jagung ini, pihaknya bisa mengantongi omzet Rp 8.750.000 per bulan dengan asumsi sehari bisa menjual minimal 50 jagung. “Harga jual kita antara Rp 7.000 sampai Rp 8.000 per buah,” katanya.

Investasi awal untuk bisnis ini hanya dengan mengeluarkan dana sebesar Rp 13 juta, calon investor akan mendapatkan 1 unit booth, 1 set perlengkapan usaha seperti alat pembakar dari kaca, toples untuk varian rasa, dan nampan untuk pemanggang jagung.

“Kita pakai jagung di pasaran, jagung biasa asal bukan jagung sayur, pakai jagung lokal bukan impor,” ujarnya. Selain peralatan, calon investor juga mendapatkan panduan teknis untuk proses pembuatan dan mendapat seragam karyawan 2 pieces.

“Bahan baku kita kasih 1 kali jualan untuk 30 jagung termasuk bahan baku awal. Di awal usaha tinggal jualan. Yang dibebankan tempat dan karyawan. 100% keuntungan buat mitra. Setelah itu repeat order. 6 bulan dengan 1 hari 50 porsi bisa balik modal,” katanya. Tertarik? Bisnis ini diwaralabakan dan anda bisa mencobanya.

Bisnis Fried Chicken Gerobak Dalam Sebulan Untung Bersih Rp 6,5 Juta

Pedagang kecilpun ikut ambil bagian dalam bisnis fried chicken. Resep dan proses pembuatannya diadaptasi. Meski lebih sederhana, namun usaha ini lumayan menjanjikan. Untuk 1 gerobak saja, keuntungan bersihnya mencapai Rp. 6,5 juta per bulan!

Penikmat fried chicken yang tak pernah surut mendatangkan rezeki tersendiri bagi para pedagang ayam goreng tepung. Masyarakat ekonomi bawahpun bisa mencicipi menu ini dengan harga lebih ekonomis. Meski tak mengusung nama franchise dan mengelola sendiri, usaha bisa laris dan bertahan lama.

Salah satu contoh sukses adalah pedagang fried chicken bernama Rahman. Pria ini sudah 6 tahun menggeluti usaha fried chicken. Sebelumnya, pria ini bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan retail di Jakarta. Namun perusahaannya bangkrut dan ia kehilangan pekerjaan. Rahmanpun mencoba membuka usaha ayam goreng tepung.

“Awalnya 6 tahun lalu hanya coba-coba. Bumbu raciknya juga beli yang siap olah, waktu itu sekitar Rp. 15.000 untuk satu hari, cukup untuk 10 ekor. Tapi lama-lama mencoba sendiri. Sempat gagal, tapi terus saya coba hingga akhirnya ketemu komposisi yang pas. Sekarang bumbunya buat sendiri, jauh lebih hemat,” ungkap Rahman.

Tiap harinya, Rahman menghabiskan 10 ekor ayam, masing-masing berukuran 1,2 kg. Tiap ekornya dibagi menjadi 16 bagian. Karena ukurannya kecil, ia menjual ayamnya dengan harga satuan Rp. 3.500. “Lebih baik harganya murah tapi ukuran kecil, jadi pas untuk pembeli ekonomi bawah yang kita sasar,” tutur pria yang sehari-harinya berjualan di kawasan Bekasi Utara ini.

Soal penggunaan minyak, Rahman mengaku hanya menggunakan minyak goreng kemasan, bukan curah. Diakuinya, minyak goreng kemasan lebih awet dan bersih. Tiap harinya, ia menggoreng dengan 5 liter minyak dengan perbandingan 2 liter minyak kemasan baru dan ditambah 3 liter minyak sisa hari sebelumnya.

Agar tetap segar, ayam goreng buatan Rahman tak digoreng sekaligus, melainkan dibagi dalam 3 tahap. Ketika ayam hampir habis terjual, baru Rahman menggoreng lagi stok ayam yang ia simpan di dalam cool box. Jejeran ayam gorengnya tampak disinari oleh lampu yang disebut Rahman ‘lampu oven’. Tak cuma membuat ayam tampak menggiurkan, lampu tersebut juga bisa membantu ayamnya tetap hangat.

Rahman juga merinci biaya yang ia keluarkan setiap hari. 10 ekor ayam per ekornya ukuran 1,2 kg dibeli dengan harga Rp 24.000 hingga Rp 26.000. Perharinya, ia juga membeli minyak goreng kemasan ukuran 2 liter dengan harga sekitar Rp 20.000. Biaya lain yang dikeluarkan adalah saus cabai curah, juga bumbu dan tepung.

Ayah 2 anak ini tak segan-segan membeberkan keuntungan yang didapat perharinya. “Tiap hari omzetnya bisa lebih dari Rp 500.000, dan untungnya sekitar setengahnya. Sekitar Rp 200.000-an per hari pendapatan bersihnya,” tutur Rahman. Rahman juga rutin menerima pesanan ayam goreng dalam jumlah besar di lingkungan tempatnya berjualan.

Ada beberapa tips usaha yang dijalankan pria asal Tasikmalaya ini. Ia mendirikan usaha di tempat strategis, yaitu di sebuah jalan yang menjadi jalur masuk beberapa komplek perumahan. Ia juga tak segan-segan memberi potongan harga. “Langganan saya biasanya bukan beli satu atau dua potong, tapi langsung sebut, Rp 10.000, Rp 20.000, itu langsung saya beri 3 potong dan 6 potong. Para pembeli sudah pada tahu.”

Menurut Rahman, usaha fried chicken ini tergolong usaha yang tak sulit dijalankan. “Dibanding kuliner lain, ayam ini lebih praktis dan untungnya lumayan. Asal konsisten dan menguasai ilmu mengelolanya. Sebagai gambaran, menjual 5 ekor ayam sehari saja sudah cukup untuk menghidupi 2 orang. Modal cukup Rp. 3 juta. Terlihat sepele tapi sebenarnya menjanjikan,” tutupnya.

Dengan Modal Rp. 8 Juta Bisa Punya Usaha Fried Chicken

Bila ingin mempunyai gerai fried cicken yang bisa langsung bergulir, bisa bermitra dengan beberapa warlaba ini:

1. Rocket Fried Chicken (RFC)
Franchise fried chicken yang dikelola aktor Indra Brugman ini sudah memiliki puluhan cabang, dari Jakarta, Bogor, Semarang, Batam, Kendari, dan kota besar lain. Selain fried chicken, menu lainnya adalah burger, french fries, hot dog, juga spaghetti. Berbasis di Bandung, investasi RFC berkisar antara Rp 65 juta hingga 225 juta dengan konsep kios, ruko, mini cafe, juga resto.

2. Orchi Fried Chicken
Kemitraan fried chicken Orchi menjanjikan keuntungan sekitar 5 juta rupiah perbulannya. Ada 2 paket yang tersedia, yaitu paket Lux dengan biaya 8 juta rupiah dan juga paket Eksklusif Rp 9 juta. Sudah termasuk pelatihan menggoreng ayam dan peralatan outlet. Berkantor pusat di kawasan Pulogebang Jakarta Timur, kini Orchi sudah memiliki ratusan cabang.

3. Jupe Fried Chicken (JFC)
Seperti Indra Brugman, artis Julia Perez juga menggeluti usaha kemitraan fried chicken. Menu-menu Jupe Fried Chicken juga dibuat unik, dari menu paha Jupe, dada Jupe, juga Jupeto wedges. Untuk bermitra, Anda bisa mengajukan lokasi, memberikan commitment fee sebesar 5 juta rupiah, dan mengikuti beberapa persyaratan lainnya. Gerainya yang didominasi warna pink dan ungu ini tersedia di kawasan Bandung, Sumedang, Karawang, juga Pekanbaru.

4. Java Fried Chicken
Kemitraan Java Fried Chicken mengunggulkan kelebihan jika tak ada royalty fee, waralaba fee, juga support fee. Dengan investasi awal Rp 7,5 juta hingga 8 juta, Anda sudah bisa menggunakan nama Java Fried Chicken, lengkap dengan pelatihan masak, bantuan pemasaran juga peralatan memasak dari bisnis franchise asal Garut, Jawa Barat ini.

5. Crispyku Fried Chicken
Dengan biaya investasi Rp. 10.000.000, Anda bisa memiliki usaha ayam goreng renyah khas Crispyku. Biaya tersebut sudah termasuk etalase, berbagai perlengkapan memasak, juga 10 kantong bumbu untuk 200 ekor ayam. Seperti tertulis dalam situs Waralaba Crispy Fried Chicken, kini Crispyku sudah memiliki lebih dari 50 outlet, dan berkantor pusat di kawasan Jakarta Utara.

Resep dan Cara Membuat Ayam Fried Chicken

Meskipun tak asli Amerika, fried chicken sudah jadi makanan nasional Amerika. Banyak resto dan rumahtangga punya andalan resep fried chicken. Selain bumbu juga racikan tepungnya punya banyak varian. Yuk, bikin fried chicken sendiri!

Resep ini merupakan resep fried chicken bergaya tradisional Amerika. Sebelum digoreng ayam dibumbui dan dicelupkan dalam susu dan telur. Dibalut tepung lalu digoreng. Rasanya lebih gurih dan enak. Ini dia langkah membuatnya.

1.Ayam Negeri
Ayam negeri menjadi bahan utama. Pilih yang beratnya di bawah 1 kg dan gemuk. Buang lapisan lemak berlebihan di bagian pantat dan pahanya. Cuci bersih lalu potong menjadi 8-12 bagian.

2.Bumbu
Sebagai bumbunya, siapkan 2 sdt merica bubuk, 2 sdt cabai merah bubuk dan 2 sdt garam serta 4 siung bawang putih yang diparut halus. Jumlah bumbu ini bisa disesuaikan dengan selera.

3. Membumbui
Taburi ayam potongan dengan Bumbu lalu remas-remas hingga rata. Tutup wadah dan simpan di dalam kulkas selama minimal 3 jam. Tujuannya agar cairan di dalam ayam keluar dan bumbu meresap.

4. Tepung Bumbu
Sebagai bahan pelapisnya, siapkan 150 g tepung terigu dan campur dengan 50 g tepung maizena, 1 sdt merica bubuk dan 2 sdt garam. Aduk hingga tercampur rata.

5. Adonan Telur
Kocok 1 butir telur ayam bersama 200 ml susu cair hingga menyatu. Campuran ini memberi rasa gurih dan berfungsi sebagai perekat.

6.Melapisi Telur
Lap potongan ayam dengan tissue dapur hingga kering. Jika masih berair ayam tidak bisa renyah. Celupkan tiap potong ayam dalam Adonan Telur hingga rata termasuk di bagian bawah kulit dan tulangnya

7.Melapisi Tepung
Lapisi tiap potongan ayam dengan Tepung Bumbu hingga rata. Tekan-tekan hingga menempel dan seluruh bagian tertutup tepung

8.Menggoreng
dalam minyak panas. Jangan terlalu banyak memasukkan potongan ayam. Tiap kali 3-4 potong. Goreng hingga kuning keemasan dan kering merata. Karena merupakan makanan gorengan, sebaiknya nikmati selagi panas agar terasa krenyes renyah gurih tepung dan ayamnya. Saus sambal atau saus tomat bisa jadi pelengkapnya.

Tempat Kursus Memasak Ayam Goreng Fried Chicken

Kriuk renyah fried chicken digemari banyak orang. Tak heran, mulai dari gerobak sampai jaringan restoran cepat saji ternama tak pernah sepi pembeli. Tertarik membuka usaha fried chicken? Kursus dulu di sini!

Agar fried chicken yang dihasilkan enak, bertepung renyah dan keriting, serta menguntungkan, Anda perlu belajar dari pakarnya. Di Jakarta dan Serpong, ada beberapa tempat kursus yang bisa jadi pilihan. Berikut informasi tempat kursus yang diperlukan:

1. Kursus Masak Bee
Jadwal: setiap Selasa, 09:00-11:00
Biaya: Rp 600.000
Keterangan: kursus trik memotong ayam, membumbui, dan memberi tepung. Praktik langsung dan bawa pulang hasilnya. Bisa mengulang gratis dengan membawa resep asli.
Alamat: Jl. Ratu Kemuning blok A2/10C, Taman Ratu (sebelah Bank Permata Taman Ratu), Jakarta Barat
Telepon: 021-5635450, 021-26808881, 08159008881

2. Kursus Fried Chicken a la KFC
Jadwal: -
Biaya: Rp 500.000
Keterangan: kursus teknik dan trik agar fried chicken gurih, keriting, dan renyah.
Alamat: Jln. Pulogebang No.43, Jakarta Timur
Telepon: 021-93489359, 081585085012

3. Kursus Masak Fried Chicken
Jadwal: -
Biaya: Rp 350.000
Keterangan: termasuk makalah, bahan praktik (ayam, tepung, minyak goreng), contoh tepung untuk dibawa pulang.
Alamat: Jl. H. Mairin No. 84, Ulujami, Jakarta Selatan
Telepon: 087884551921

4. UKMKU
Jadwal: -
Biaya: Rp 230.000
Keterangan: termasuk makalah, bahan, alat, praktik langsung, makan siang, dan hasil kursus dibawa pulang.
Alamat: Jl. Poncol Raya No. 1, Cirendeu, Lebak Bulus, Jakarta Selatan
Telepon: 021-70038143, 08567194353

5. Tristar Institute
Jadwal: hubungi langsung
Biaya: Rp 750.000
Keterangan: kursus cara memproduksi tepung fried chicken resep industri yang renyah dan tahan sampai tiga jam, plus resep ayam kremes, ayam tulang lunak, dan ayam crispy.
Alamat: Komplek Ruko BSD Sektor 7, blok RL 31-33, Serpong, Tangerang
Telepon: 021-53151389, 08883271088

Pertumbuhan Franchise Melambat Kini Menjamur Bisnis Dengan Gerobak Di Pinggir Jalan

Kecenderungan pertumbuhan, khususnya usaha mikro dan kecil yang dijalani anak muda perkuliahan di Indonesia saat ini, lebih pada usaha jajanan warung dan camilan ketimbang industri franchice. Rhenald menyebutnya sebagai usaha “grobakchice”.

“Jadi yang tumbuh bukannya franchise, melainkan grobakchise. Masa para calon sarjana udahannya hanya (usaha) camilan. Para sarjana Indonesia yang berwirausaha hanya memikirkan camilan dan grobakchise,” ujarnya, saat dihubungi Kompas.com, di Jakarta, Selasa (27/6/2012).

Bagi Rhenald, usaha kecil yang dijalani anak muda calon sarjana tersebut malah berdampak pada usaha kecil yang dilakoni rakyat kecil. Rakyat kecil tersebut, lanjut Rhenald, justru harus bersaing pasar dengan para wirausaha muda dari kalangan orang berpendidikan.

“Bukannya berinovasi melainkan bertempur dan menjadi musuhnya rakyat kecil. Nah ini semua karena kita terlalu hanyut dengan jargon usaha kecil, yang semasa krisis menjadi penyelamat ekonomi nasional,” tutur Rhenald yang saat ini sedang berada di Perancis.

Keadaan seperti sekarang ini di Indonesia, menurut Rhenald, justru berbeda dengan usaha anak muda yang dijalani pada masa 1980-an silam. Ia mencontohkan, tokoh Sukanto Tanoto yang pada tahun 1980-an sudah memberanikan diri terjun dalam usaha pabrik bubur kertas. Lalu pada tahun 1990-an, ada Sudarpo, seperti halnya Tanoto, sudah berani masuk dalam usaha perkapalan, dan Hasyim Ning yang memulai kiprahnya pada usaha dealer mobil.

“Masa, tahun 2010-an ke sini, kita hanya berani jualan dawet dan camilan? Maka dari itu, visi industri harus dibangun. Ke mana menteri perindustrian dalam pengembangan pengusaha muda? Ke mana kredit-kredit industri? Ini saatnya kewirausahaan Indonesia direvitalisasi, diarahkan ke industri, khususnya energi terbarukan, lingkungan, dan inovasi,” ungkap pria yang bergelar Ph D dari University of Illinois ini.

Ia menambahkan, anak muda tersebut jangan hanya bermental penumpang, tetapi harus punya mental seperti halnya pengemudi. Pengemudi yang kreatif dan punya keberanian mengambil risiko dan punya pemikiran strategis.

Mereka juga, lanjut Rhenald, harus mampu membangun jaringan dan khususnya memiliki mental sebagai pemenang. Baginya, lawan pemenang bukanlah loser, melainkan mereka yang berhenti. Dengan demikian, anak muda tersebut jangan mudah berhenti. Lalu Rhenald menambahkan, pemenang itu bukan mereka yang tak pernah jatuh atau kalah, melainkan yang tak pernah berhenti. Adapun yang kalah adalah mereka yang berhenti.

“Lalu impiannya harus jadi pengusaha besar, yakni industri, bukan bertarung dengan rakyat kecil di kaki lima,” tutur Rhenald Kasali yang pernah menerima Piagam Penghargaan Satya Lencana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden Republik Indonesia ini pada 2004 silam.

LaxsVin Art Berbisnis Lukisan Daur Ulang Bubur Kertas Dengan Penjualan Ratusan Juta Rupiah

Sumarsono tak putus asa ketika perusahaan tempat bekerjanya kolaps dan bubar karena krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998. Ia pun memutar otak mencari akal usaha apa yang harus dikerjakannya. Dengan berbekal keahliannya di bidang grafis, ia akhirnya membuat panel seni bubur kertas. Saat ini Sumarsono bisa meraup puluhan juta setiap bulannya.

“Tahun 1989, pertama kali masuk Jakarta, saya kerja di advertising outdoor. Saya di production dan grafis, ya ada basic pemahaman terhadap gambar. Tahun 1998 kolaps, bubaran semua. Ada dua tahun menganggur,” sebut Sumarsono, pemilik LaxsVin Art dalam sebuah pameran, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia memulai mengerjakan panel seni bubur kertas pada tahun 2000. Tepat dua tahun sejak dia tidak lagi mempunyai pekerjaan. Beda dengan lukisan pada umumnya yang menggunakan kanvas dan cat, Sumarsono justru memakai panel kayu sebagai pengganti kanvas dan bubur kertas.

Bahan bekas memang menjadi pilihan sebagai bahan baku bagi karya seninya. Waktu itu, ia mengaku belum mengenal adanya kampanye peduli lingkungan atau go green. Ada beberapa bahan bekas, seperti sisa gergajian, pelepah pisang, hingga bubur kertas, yang menjadi pilihannya. Tapi bubur kertas yang Sumarsono pilih. Ia mengaku ada karakter khas yang didapatkannya dari material itu. “Dia natural,” sambungnya.

Tapi, membuat karya seni dari bubur kertas ternyata tak mudah. Awalnya, ia membuat panel seni dari bubur kertas yang bentuknya dua dimensi. Desainnya pun dinamis dengan berbagai warna. Ada enam tahun Sumarsono melakukan eksperimen terhadap karya seninya. Tahun 2006, lukisannya bisa dibilang berhasil dibuat sesuai harapan. Tidak ada literatur yang menjadi panduannya. “Kita semua meraba karena kita mengembangkan suatu produk yang orang lain belum lakukan,” kata dia.

Lantas, ia pun memberanikan diri menjajakan produk panel seni bubur kertasnya ke pasar kaget. Ia membuat 15 buah lukisan dengan ukuran 80×120 sentimeter. Sumarsono pun kaget karena sisa jualannya hanya lima lukisan. Saat itulah kepercayaan dirinya terbangun.

Tahun 2007, ia pun mulai diajak oleh Pemerintah Daerah tempat dia tinggal, di Bogor, Jawa Barat, untuk ikut pameran. Sejumlah pameran diikutinya. Melalui pameran, ia berinteraksi dengan pembeli yang akhirnya menghasilkan masukan bagi produknya. Dikatakannya, pembeli mengeluh harga produk yang mahal dan berukuran besar sehingga sulit dibawa perjalanan jauh. Harga lukisan memang sempat dibanderolnya Rp 1,5 juta.

Seorang pembeli asing pun mengeluhkan besarnya lukisan sehingga sulit dikemas untuk dibawa pulang ke negaranya. Dari pengalaman itu, Sumarsono berusaha mencari ukuran yang pas agar lukisannya bisa dibawa dengan mudah. Ini dilakukannya mulai tahun 2010. “Delapan buah lukisan seberat 5 kilogram. Jadi nggak berat. Kan jatah bagasi 20 kilogram di pesawat,” sebutnya.

Dalam berproduksi, Sumarsono tak membuatnya semua bagian panel bubur kertas sendirian. Bahan panel dari dia, tapi pengerjaannya dilakukan oleh orang lain. Dan, tenaga kerja tetapnya hanya tiga orang. Untuk kertasnya, ia mencari kertas koran dari pengepul harian. Satu bulan, usaha panel bubur kertasnya bisa menggunakan 300-400 kilogram koran bekas. Harga belinya pun sengaja ia lebihkan. “Dari rumahan saya patok harga Rp 2.000 per 1 kilogram, walaupun Rp 1.000 mereka sudah untung,” ungkap dia.

Karena biaya produksinya terbilang rendah, ia pun bisa menekan harga jual. Untuk lukisan berukuran 45X45 sentimeter, ia membanderol seharga Rp 75.000-Rp 100.000. Produksi pun bisa ribuan panel dalam satu bulan.

Ukuran yang pas diklaimnya sebagai salah satu alasan larisnya panel. Apalagi produk panelnya memang dibuat berseri atau satu rangkaian. Jadi satu pembeli biasanya tidak hanya membeli satu buah panel. “Kita kasih harga Rp 75.000 kalau beli enam buah,” ucapnya. Sumarsono pun mengaku belum pernah mengambil modal dari bank selama ini.

Bila ada permintaan, maka uang muka sebesar 30 persen sudah menutupi biaya produksi sebuah pemesanan. Penjualan pun tidak hanya dalam negeri. Ekspor dilakukan Sumarsono. Tapi tidak secara langsung. Ia mengandalkan buyer dan eksportir. “Setiap pameran suka dapat buyer. Entah dari Brasil, Malaysia,” tutur dia.

Dengan penjualan yang begitu gencar, omzet besar pun dihasilkan dari panel seni bubur kertasnya. Omzet terus meningkat. Dulu, kata dia, paling hanya Rp 20 juta per bulan sekarang bisa mencapai Rp 30 juta per bulan. “Dari situ nggak usah minjam. Ambil 20 persen untuk produksi,” ujar dia.

Ke depan, ia menjanjikan, produk panelnya tidak akan sama. Akan ada yang berubah dalam jangka waktu tertentu. Lalu, ia akan mengenalkannya melalui pameran.

Untuk sekarang ini, pada produk panelnya, warna era-80an ia hidupkan kembali dengan dominasi oranye. Sekalipun produk panel bisa berubah motif dan ukuran, tetapi fokus pasar tetap rumah yang modelnya minimalis. Lalu, ia berusaha menggunakan warna dasar hitam. Ini dilakukannya agar produk lukisan bubur kertasnya masuk ke semua warna cat rumah.

Ia pun tidak hanya menjual produk. Tapi, dia menularkan usahanya yang ramah lingkungan melalui pelatihan. Dia sering diajak untuk menjadi pembicara dalam pelatihan. Sumarsono juga berprofesi sebagai trainer recycle paper. “Pelatihan sudah pernah saya kerjakan di NTB, Serang, Jakarta,” ungkapnya.

Dari pelatihan itu, ia pun bisa mendapatkan penghasilan. Itu karena pelatihan memungut biaya. Biaya yang ditarik per orang dalam suatu pelatihan bisa mencapai Rp 2,5 juta. Semakin sedikit orang yang mengikuti dalam satu kelas, biaya pelatihan pun bisa semakin mahal. “Di situ hitung-hitungan bisnisnya ada, kenapa saya nggak ambil,” sambung Sumarsono.

Ia pun tak masalah bila ada yang mengikuti produk lukisannya. Pasalnya, Sumarsono berkilah ia sudah mempunyai jam terbang yang tinggi. Lagi pula, kata dia, gaya lukisan setiap orang berbeda. “Mereka akan mengangkat budaya mereka, gambar-gambar mereka,” pungkas dia.

Tas Produk Lokal Merek M Joint Sukses Menyerbu Ratusan Toko Bergengsi Di Eropa

Merintis sebuah usaha dan menjadikannya sukses tak bisa hanya mengandalkan pendidikan yang dimiliki saja. Perlu pembelajaran yang terus menerus. Perlu juga kerendahan hati dan tidak cepat berpuas diri. Kira-kira itulah yang dilakukan seorang Rico Yudhiasmoro dalam menekuni bisnis produk kulitnya M Joint.

Pria yang mengenyam pendidikan tinggi di jurusan ekonomi dan advertising Universitas Gajah Mada ini, mengaku memulai bisnis pada awal Juni 1997. “Ada seorang pengrajin yang bergabung sama kita. Kan kita lihat di Yogyakarta itu kota budaya, kota pelajar, sumber bahan baku kulit juga banyak,” sebut Rico kepada Kompas.com, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia yang mengaku tidak bisa desain ini pun belajar banyak dari pengrajin tersebut. Semua bentuk barang ia pelajari cara pembuatannya, mulai dompet, sarung tangan, hingga jaket. Dan, bahan baku produk pun tidak hanya kulit. Mereka menerima juga pesanan produk dari bahan non-kulit. “Waktu itu kan masih belajar, apa saja yang masuk order-nya ya diterima,” sebutnya.

Beberapa tahun bersama, Rico dan pengrajin tersebut pun berpisah dengan alasan perbedaan visi. Apalagi, kata Rico, tuntutan kualitas produk dari konsumen kian tinggi. Sementara, menurut dia, pengrajin kurang memperhatikan kualitas.

Usaha Rico akhirnya fokus kepada produk-produk dari kulit. Bahan baku produk Rico hampir semua dari dalam negeri. Ia tidak menggunakan cat supaya terkesan natural. Kulitnya juga ramah lingkungan. “Istilahnya vegetable tanned,” ucapnya.

Terkait modal, ia mengaku tak pernah merasa kesulitan. Kuncinya adalah kredibilitas. Ketika itu dipunyai, bantuan seperti pinjaman dana ataupun bahan baku mengucur. “Tunjukin kredibilitas dulu, prestasi kita apa. Adalah yang nawarin modal. Nggak kesulitanlah. Bisa diusahakan lebih mudah ketimbang teknis,” tegas Rico.

“Modal bisa pinjam dari keluarga dan teman tapi harus tanggung jawab,” lanjutnya.

Hal yang menjadi kendala justru sumber daya manusianya. Tidak ada sekolah atau pelatihan khusus untuk membuat tas. Ia lantas harus mengadakan pelatihan sendiri bagi karyawannya. Spesialisasi dalam bekerja ia bentuk. “Kita bikin spesialisasi, ada yang ngelem, yang jahit. Di tempat kita tidak satu orang buat dari awal sampai akhir,” paparnya.

Tadinya, ia hanya punya lima karyawan termasuk dirinya dan lokasi produksinya dilakukan di garasi rumah orang tuanya. Sekarang, usaha M Joint telah memiliki sekitar 100 karyawan dan lokasi produksi pun bergeser ke belakang rumah supaya bisa menampung karyawannya.

Utamanya sekarang ini, Rico membuat tas dan dompet kulit. Ini lantaran keduanya sudah ada dari zaman dahulu kala. Ia berusaha membuat produk kulitnya tersebut berkualitas baik. Dengan begitu, produknya pasti dicari konsumen. “Ya kayak kuliner enak walau tempatnya terpencil, orang pun datang sekalipun terpelosok,” kata dia.

Alhasil, pemasaran produk kulitnya ini berlangsung dari mulut ke mulut. Atau, bisa dari relasi bisnis dan pameran yang diikutinya. Dari pameran itulah, usaha Rico berhasil mendapatkan buyer. Salah satu pameran yang pernah diikutinya yakni di Frankfurt, Jerman, pada tahun 2007. Ia dibawa oleh Badan Pengembangan Ekspor Nasional. “Promosi itu penting nggak pentingnya ya lihat kemampuan kita kalau belum layak kenapa promosi itu sama dengan mempermalukan diri sendiri,” sambung dia.

Rico menyebutkan, produksi tasnya bisa mencapai 2.500-3.000 buah setiap bulan. Tapi jumlah itu tergantung desain. Bila rumit otomatis lebih sedikit. Sebagian besar, yakni sekitar 90 persen produk kulitnya berupa tas. Sisanya berupa dompet. Sebagian besar produknya menyasar pasar internasional. Tahun 1998, produk Rico sudah masuk ke pasar Jepang meski kuantitasnya tidak banyak. Pengiriman ke Jepang pun tidak berlanjut lagi karena produknya kalah bersaing dengan produk buatan China.

Sekarang ini, tas dan dompet kulitnya pun menyasar Eropa dan Australia. 80 persen dari total produksi ia lepas ke Eropa ,15 persen ke Australia dan sisanya baru untuk pasar dalam negeri. Produk Rico yang di Eropa sudah mengisi etalase 450 toko, dijual sesuai dengan merek setempat.

Adapun untuk penjualan di pasar lokal, Rico hanya memasarkan melalui pameran atau penjualan di rumahnya. “Kalau mau barang saya ya cari di Eropa, Australia, atau ke rumah, atau di pameran gini,” katanya.

Sekarang ini, ia berusaha mempertahankan pasar di kedua negara itu. Itu saja ia merasa kewalahan mengerjakan jumlah produksi yang terbilang besar. Sampai-sampai, Rico harus lembur hingga malam. Kondisi yang demikian membuat upaya membuat merek sendiri pun agak terhambat. Ia sedang berusaha mempatenkan merek pribadi yang sudah disiapkannya. Belum lagi ia harus siap memproduksi dalam jumlah yang lebih besar untuk mengisi pasar Tanah Air.

Mengenai omzet, pria yang telah berkeluarga ini tidak bersedia memberikan detil angkanya. Ia beralasan usahanya masih kecil dibandingkan bisnis kulit lainnya. Namun, ia mengisyaratkan, penjualan produknya bisa mencapai miliaran rupiah dalam setahun. Ini dihitung dari harga produk yang lumayan. Untuk dompet, ia memasang harga antara Rp 50.000-Rp 150.000 per buah, sementara tas dengan kisaran Rp 300.000-Rp 600.000 untuk harga grosir.

“Naik terus omzet. Dari 3 tahun terakhir naik 15 persen. Tapi kan juga keuntungan belum tentu naik karena euro bisa turun dan biaya dalam negeri bisa naik,” sebutnya.

Ke depan, Rico berupaya menyasar pasar Timur Tengah, seperti Dubai. “Dubai sudah ada order dari buyer di Belanda. Tapi, barang dikirim langsung,” pungkas dia.

Bisnis Pendidikan Stella Maris Beromzet 100 Milyar Kini Membuka Peluang Waralaba Franchise

Passion merupakan motor terbesar Pierre Senjaya dalam membesarkan bisnisnya di dunia pendidikan. Didikan orang tua yang selalu memprioritaskan pendidikan membuat Pierre menikmati aktivitasnya di bisnis sekolah dan konsultan pendidikan.

Bisnis pendidikan merupakan salah lini usaha yang potensial dikembangkan di Tanah Air. Tengok saja kisah Pierre Senjaya yang sukses berbisnis pendidikan lewat jaringan sekolah Stella Maris.

Stella Maris merupakan sekolah pendidikan formal yang mengelola taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA). Saat ini, Stella Maris memiliki dua sekolah milik sendiri dan dua sekolah milik terwaralaba. Tahun 2011, omzet bisnis sekolah ini mencapai sekitar Rp 100 miliar.

Pierre yang kini menjabat sebagai Direktur Stella Maris International Education memang bukan pendiri Stella Maris. Dia adalah penerus dari usaha yang didirikan oleh sang ibu, Strella. Meski hanya penerus, bukan berarti Pierre tidak terlibat saat Stella Maris berdiri. Bahkan di tangannya, Stella Maris terus berkembang dan memiliki beberapa cabang. Ia pula yang membuka kerja sama waralaba.

Selain mengembangkan sekolah formal, Pierre juga membuka bisnis pendidikan di bidang pembentukan karakter, pendidikan karier, dan bisnis konsultan pendidikan di bawah bendera Asia One Consulting dan Success Academy Indonesia. “Sekolah yang datang untuk berkonsultasi sudah cukup banyak. Dari 2010 hingga sekarang, sudah ada 20 sekolah,” ujar pria kelahiran Jakarta, 1 September 1979 ini.

Pierre bercerita, cikal bakal Stella Maris adalah keprihatinan terhadap anak-anak panti asuhan Padang Gembala milik ibunya yang tidak memiliki sekolah standar. Akhirnya, sang ibu membuka sekolah Stella Maris pada tahun 1995 di kawasan Serpong. Ia memulai dengan dua ruko. “Kami membuka untuk umum, selain untuk anak panti sendiri,” ujar suami Susan Angela ini. Kelas yang dibuka adalah untuk TK dan SD.

Saat sekolah Stella Maris dibuka, Pierre masih duduk di sekolah menengah atas (SMA). Meski sebagai pelajar, dia sempat berkeliling menyebarkan brosur dan memasang spanduk Stella Maris di pasar hingga ke pusat perbelanjaan. “Selama enam bulan kami berpromosi secara tradisional. Syukur, respons cukup bagus. Kami mendapat 200 murid,” kenangnya. Setelah itu, sekolah terus berkembang, dari dua ruko menjadi empat ruko, bahkan sampai delapan ruko pada tahun 1999. Jenjang pendidikannya juga bertambah, ada SMP dan SMA.

Saat kuliah di Universitas Bina Nusantara jurusan akuntansi, Pierre diserahi tanggung jawab mengelola keuangan dan administrasi Stella Maris. “Saya padatkan kuliah menjadi empat hari seminggu supaya bisa mengurus Stella Maris,” ujar anak kedua dari dua bersaudara ini. Ia juga diserahi tugas membenahi sistem teknologi informasi untuk memudahkan laporan keuangan dan administrasi.

Setelah lulus kuliah pada tahun 2001, sembari menjalankan pengelolaan Stella Maris, Pierre menjadi programmer di Bank Lippo. “Saya ingin mencari pengalaman lain,” dalihnya. Ia juga melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Pelita Harapan dengan mengambil jurusan Teknologi Pendidikan. Di Bank Lippo, Pierre hanya bertahan setahun, dan kemudian pindah ke PT Rimba Dana sebagai system analyst selama setahun. Setelah itu, ia terlibat total di pengelolaan Stella Maris.

Kurang modal

Stella Maris maju semakin pesat. Tahun 2004, sekolah itu menerapkan sertifikasi ISO 9001: 2000. Setelah studi banding sekolah di Singapura dan Australia, Pierre lantas mengadopsi kurikulum International Baccalaureate (IB) dan kurikulum Cambridge yang menitikberatkan pada kemampuan akademik. Jumlah siswanya pun terus bertambah menjadi sekitar 2.500 siswa.

Sukses di sekolah reguler, Pierre mulai merintis sekolah internasional. “Untuk mendirikan sekolah ini, kami butuh modal puluhan miliar rupiah, cash flow kami tentu tidak mencukupi,” kenangnya. Dia mencoba mencari pinjaman ke bank. Tapi, dua bank menolak proposal pengajuan kredit.

Alhasil, Pierre mulai mempelajari secara detail proposal kredit. Dia mencari tahu kriteria bisnis model seperti apa yang bisa meyakinkan bank. Berkat cara ini, dia berhasil mendapatkan utang dari salah satu bank swasta nasional. “Mereka melihat arus keuangan kami sehat dan penambahan jumlah murid pesat,” katanya.

Pierre juga sempat menghadapi sengketa dengan warga di sekitar lahan yang bakal dibangun sekolah internasional di Summarecon Serpong. “Hanya karena kesalahpahaman, mereka mendemo. Tapi, syukur, itu bisa diatasi,” ujarnya. Tahun 2006, dia membuka sekolah internasional Stella Maris.

Kesuksesan Stella Maris di bisnis pendidikan membuat banyak pihak tertarik. “Beberapa ingin membuka cabang, tapi kami belum siap. Tahun 2009, kami baru berani menawarkan waralaba,” ujar Pierre. Saat ini, ia menargetkan menambah lima cabang setiap tahun.

Selain berbisnis pendidikan, Pierre juga mempunyai bisnis pribadi, yaitu jasa leasing sepeda motor besar dan penjualan vila mewah di Bali.

Produsen Perawatan Mobil Merek Autofit Sukses Bersaing Dengan Merek Luar Negeri Berozmet 8 Milyar Per Tahun

Fitriyanto hanya lulusan SMA. Tapi, berkat tekad yang diiringi dengan usaha keras, ia sukses menjadi produsen perawatan mobil merek Autofit. Pemilik PT Vitechindo Perkasa ini mampu membikin produk yang bisa bersaing dengan merek terkenal.

Hidup ini bagi Fitriyanto benar-benar sebuah perjuangan. Ia lahir dari keluarga sederhana, kalau tidak disebut miskin. Ayahnya hanya seorang tukang kayu. Tapi, dengan tekad yang bulat dan usaha yang kuat, Fitriyanto mampu menjadi seorang pengusaha produk perawatan mobil yang terbilang sukses.

PT Vitechindo Perkasa, perusahaan milik Fitriyanto, berhasil memasok produknya ke bengkel resmi milik agen tunggal pemegang merek (ATPM) besar, seperti Toyota, Daihatsu, Isuzu, Honda, Nissan, Hyundai, Suzuki, Kia, dan Mazda. Bisnis ini menghasilkan omzet Rp 8 miliar per tahun.

Label merek produk buatan Fitriyanto adalah Autofit. Saat ini, ada 20 produk merek Autofit yang sudah diproduksi, antara lain produk sampo, semir ban, pelumas, pembersih evaporator, injection purge, cairan pembersih bahan bakar, pembersih blok mesin, pembersih karburator, dan pembersih ruang bakar mesin kendaraan.

Uniknya, untuk meracik Autofit, Fitriyanto sama sekali tidak memperdalam ilmu kimia secara formal. “Semua saya pelajari secara autodidak,” kata pria kelahiran Purbalingga, 10 November 1972 ini.

Ayahnya yang seorang tukang kayu tentu tak mampu menyekolahkannya tinggi-tinggi. Maka, ketika lulus SMA, pada tahun 1992, Fitriyanto langsung hijrah ke Jakarta. Anak bungsu dari lima bersaudara ini menjadi kuli bangunan.

Enam bulan menjadi kuli bangunan, Fitriyanto pindah menjadi tukang bantu-bantu di rumah Rachmat Gobel, kini Presiden Komisaris PT Panasonic Manufacturing Indonesia. Di rumah itulah ia ketemu dengan salah satu manajer Panasonic. “Saya ditawari kerja,” ujarnya. Ia lalu menjadi pegawai di Panasonic, divisi komponen, yang memproduksi semua speaker.

Di waktu senggang, Fitriyanto selalu meluangkan waktu untuk membaca buku kisah orang sukses. “Saya menghimpun tekad untuk menjadi orang sukses. Dari buku yang saya baca, orang sukses kebanyakan mengawali karier sebagai tenaga pemasaran (marketing),” kata suami Lihardiana ini.

Fitriyanto lantas hengkang dari Panasonic dan pada tahun 1995, ia menjadi tenaga pemasar di produsen minuman. “Saya mendapat upah Rp 75.000 per bulan, jauh lebih kecil ketimbang jadi kuli bangunan. Ketika jadi kuli, upah saya Rp 60.000 per minggu,” kata Fitriyanto yang akhirnya keluar setelah tiga bulan bekerja.

Lantaran bertekad jadi tenaga pemasar, Fitriyanto kembali masuk ke perusahaan cokelat selama setahun, sebelum akhirnya pindah ke PT Prima Karya Gandareksa, perusahaan kimia. Ia tetap jadi tenaga pemasar, tetapi dengan gaji Rp 5 juta per bulan. “Saya banyak belajar tentang produk perawatan mobil di sini,” katanya. Lantaran kinerjanya bagus, perusahaan menugaskannya ke Bali. Tapi, ia memilih mundur lantaran tak ingin jauh dari keluarga. Selama setahun, ia beberapa kali pindah kerja di perusahaan kimia.

Fitriyanto akhirnya masuk ke perusahaan produk perawatan mobil dari Jerman. “Di perusahaan ini, saya suka memperhatikan para peracik produk. Saya pelajari, bahan apa saja yang diramu menjadi produk perawatan,” katanya.

Setiap Sabtu dan Minggu, dia pergi ke toko kimia untuk mempelajari bahan-bahan kimia yang bisa diramu menjadi produk perawatan mobil. Dia bertahan selama lima tahun di perusahaan itu sebelum akhirnya mengundurkan diri dengan posisi gaji terakhir Rp 24 juta per bulan.

Pinjam uang ke bank

Pengalaman di perusahaan pembuatan produk perawatan mobil membuat Fitriyanto percaya diri untuk memulai usaha sendiri. “Sebagai tenaga pemasar, saya sudah memegang banyak pelanggan. Saya juga sudah bisa membuat produk sendiri,” katanya.

Dengan memanfaatkan bengkel sepeda motor di Cikeas, Bogor, yang didirikan saat masih bekerja, pada 2007, Fitriyanto memulai usaha produk perawatan mobil. “Saat itu, cuma ada satu montir dan tempatnya sangat sederhana,” kenangnya. Di bengkel itu, dia meracik bahan setelah memenangi tender pengadaan produk perawatan mobil dari salah satu bengkel mobil besar.

Lantaran tak punya modal, Fitriyanto mencari pinjaman bank sebesar Rp 25 juta. “Karena tidak ada agunan, modalnya hanya kepercayaan. Bank itu menjadi pelanggan di bengkel kami,” katanya.

Dari modal Rp 25 juta, ia bisa menghasilkan omzet Rp 80 juta. Tiga tahun berjalan, usahanya semakin besar. Dengan pinjaman bank yang lebih besar, dia membuka pabrik di daerah Cipayung, Jakarta Timur, dan mendirikan PT Vitechindo Perkasa.

Saat ini, Fitriyanto memiliki 35 karyawan dan sejak awal bulan Juni 2012, dia membuka lembaga kursus bahasa Inggris dan komputer. “Saya sendiri tak bisa mengoperasikan komputer,” katanya sambil tertawa. Ia juga membuka sekolah taman kanak-kanak sembari menjalankan usaha bengkelnya.